Sepi di Balik Rimbun Pisang: Kisah Mbah Srinah dan Rumah yang Tak Pernah Jadi Miliknya

- Senin, 12 Januari 2026 | 11:06 WIB
Sepi di Balik Rimbun Pisang: Kisah Mbah Srinah dan Rumah yang Tak Pernah Jadi Miliknya

Bantuan dari Pemerintah

Untuk makan, Mbah Srinah kadang pergi ke warung. Tapi lebih sering ia dapat dari tetangga yang baik hati. Uang belanjanya berasal dari bantuan pemerintah macam PKH dan bansos lain, plus sedekah warga.

“Mangan kadang luru dewe, seringe dikei tonggo,” akunya.

Muh Sulthon, perangkat Desa Tunjungrejo, menjelaskan bahwa desa tak tinggal diam. Mereka terus mengupayakan bantuan untuk Mbah Srinah, mulai dari PKH hingga BPNT. Pendampingan juga dilakukan agar hidupnya tetap terjamin.

“Kalau bantuan dari desa itu terkait kalau ada sembako. Untuk yang rutin didapatkan itu bantuan sosial dari Dinas Sosial, baik PKH dan BPNT,” jelas Sulthon.

Bantuan itu, lanjutnya, diberikan rutin untuk menopang kebutuhan sehari-hari. Biasanya dalam bentuk uang tunai, biar Mbah Srinah punya pegangan dan bisa belanja sesuai kebutuhannya sendiri.

“Siklusnya per bulan, tapi cairnya tiga bulan sekali. Selain itu ya, masih ada bantuan warga untuk makan atau keperluan lain,” tambahnya.

Namun begitu, ada satu persoalan yang sulit diatasi: rumahnya. Warga memang pernah swadaya membangunkan tempat tinggal untuk Mbah Srinah. Tapi karena tanahnya bukan miliknya, desa tak bisa mengajukan bantuan bedah rumah ke pemerintah.

“Kendalanya ya itu. Pekarangan bukan miliknya, jadi kami belum bisa membuatkan bangunan permanen. Ya terpaksa seperti itu dulu,” ungkap Sulthon dengan nada prihatin.


Halaman:

Komentar