Iran Buka Suara: 5.000 Jiwa Melayang dalam Gelombang Protes Terbesar Sejak Revolusi

- Minggu, 18 Januari 2026 | 20:06 WIB
Iran Buka Suara: 5.000 Jiwa Melayang dalam Gelombang Protes Terbesar Sejak Revolusi

Seorang pejabat Iran mengungkap angka yang mencengangkan pada hari Minggu, 18 Januari. Menurutnya, aksi demonstrasi yang mengguncang negara itu telah menelan korban jiwa setidaknya 5.000 orang. Yang menarik, sekitar 500 di antaranya disebutkan berasal dari barisan personel keamanan. Pejabat itu, seperti dilaporkan Reuters, langsung menuding "teroris dan perusuh bersenjata" sebagai pihak yang bertanggung jawab atas kematian "warga Iran yang tidak bersalah".

Gelombang protes ini bukan hal sepele. Bermula di Teheran akhir Desember 2025, aksi ini dengan cepat meluas menjadi gerakan nasional yang menuntut berakhirnya pemerintahan ulama. Pemicu utamanya adalah kesulitan ekonomi yang mencekik rakyat. Banyak yang menyebut, kerusuhan ini adalah yang paling mematikan sejak revolusi Islam 1979 sebuah periode kelam yang kembali terngiang.

Di tengah situasi panas ini, Presiden Amerika Serikat Donald Trump tak henti-hentinya menyoroti Iran. Ia berulang kali mengancam akan turun tangan jika pembunuhan terhadap demonstran terus berlangsung. Namun, nada Trump tampak berubah pada Jumat, 16 Januari. Lewat sebuah unggahan media sosial, ia justru mengucapkan terima kasih kepada para pemimpin di Teheran. Alasannya, mereka disebut telah membatalkan rencana eksekusi massal yang sempat dijadwalkan.

Tanggapan dari dalam negeri datang dari sosok tertinggi. Pada Sabtu (17/1), Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei bersikeras bahwa Iran tidak akan dibiarkan terjerumus ke dalam perang.

“Kita tidak akan menyeret negara ini ke dalam perang, tetapi kita tidak akan membiarkan penjahat domestik atau internasional lolos tanpa hukuman,” tegasnya.

Namun begitu, ancaman hukuman mati ternyata belum benar-benar sirna. Sehari setelah pernyataan Khamenei, pihak kehakiman memberi sinyal yang berbeda. Juru Bicara Kehakiman Iran, Ashgar Jahangir, dalam sebuah konferensi pers menyatakan bahwa sejumlah tindakan demonstran telah diidentifikasi sebagai Mohareb.

“Ini merupakan salah satu hukuman Islam terberat,” ucap Jahangir. Mohareb, istilah yang berarti "berperang melawan Tuhan", dalam hukum Iran bisa dijatuhi hukuman mati.

Sementara itu, dalam wawancara dengan Politico di hari yang sama dengan pidato Khamenei, Trump kembali menyuarakan keinginannya. “Sudah saatnya mencari kepemimpinan baru di Iran,” katanya. Khamenei sendiri balik menuduh AS dan Israel dua musuh bebuyutan Iran sebagai dalang di balik kekerasan ini. Ia pun mengakui, meski dengan enggan, bahwa "beberapa ribu" nyawa telah melayang.

Laporan dari kelompok HAM punya hitungannya sendiri. HRANA, organisasi berbasis di AS, mencatat korban tewas telah mencapai 3.308 jiwa. Mereka juga masih meninjau 4.382 kasus lainnya. Yang tak kalah menohok: lebih dari 24.000 orang dikabarkan telah ditangkap. Pejabat Iran membantah angka ini akan melonjak jauh.

“Jumlah korban tewas akhir diperkirakan tidak akan meningkat tajam. Israel dan kelompok bersenjata di luar negeri lah yang telah mendukung dan mempersenjatai mereka yang turun ke jalan,” klaim pejabat tersebut kepada Reuters.

Episentrum Kekerasan di Wilayah Kurdi

Jika mencari titik paling berdarah, lihatlah ke barat laut. Menurut seorang pejabat yang enggan disebut namanya, bentrokan terberat dan korban jiwa tertinggi justru terkonsentrasi di wilayah Kurdi Iran. Kawasan ini memang sudah lama jadi sarang gerakan separatis. Kekerasan di sini disebut-sebut yang paling brutal selama gelombang protes ini berlangsung.

Ada indikasi masalahnya semakin rumit. Tiga sumber terpisah memberitahu Reuters pada Rabu (14/1) bahwa kelompok bersenjata berupaya menyusup ke Iran dari Irak. Ini dianggap sebagai tanda bahwa pihak asing berpotensi memanfaatkan ketidakstabilan yang terjadi setelah berhari-hari aksi penindasan.

Laporan dari Hengaw, kelompok HAM Kurdi Iran yang berbasis di Norwegia, memperkuat narasi ini. Mereka menyatakan daerah Kurdi memang menjadi lokasi bentrokan paling sengit.

Kini, suasana terasa mereda. Menurut kesaksian sejumlah warga dan pemberitaan media pemerintah, penindakan keras yang brutal tampaknya berhasil meredam gelombang protes secara luas. Jalanan mungkin lebih sepi, tapi ketegangan masih terasa menggantung di udara.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar