Seorang pejabat Iran mengungkap angka yang mencengangkan pada hari Minggu, 18 Januari. Menurutnya, aksi demonstrasi yang mengguncang negara itu telah menelan korban jiwa setidaknya 5.000 orang. Yang menarik, sekitar 500 di antaranya disebutkan berasal dari barisan personel keamanan. Pejabat itu, seperti dilaporkan Reuters, langsung menuding "teroris dan perusuh bersenjata" sebagai pihak yang bertanggung jawab atas kematian "warga Iran yang tidak bersalah".
Gelombang protes ini bukan hal sepele. Bermula di Teheran akhir Desember 2025, aksi ini dengan cepat meluas menjadi gerakan nasional yang menuntut berakhirnya pemerintahan ulama. Pemicu utamanya adalah kesulitan ekonomi yang mencekik rakyat. Banyak yang menyebut, kerusuhan ini adalah yang paling mematikan sejak revolusi Islam 1979 sebuah periode kelam yang kembali terngiang.
Di tengah situasi panas ini, Presiden Amerika Serikat Donald Trump tak henti-hentinya menyoroti Iran. Ia berulang kali mengancam akan turun tangan jika pembunuhan terhadap demonstran terus berlangsung. Namun, nada Trump tampak berubah pada Jumat, 16 Januari. Lewat sebuah unggahan media sosial, ia justru mengucapkan terima kasih kepada para pemimpin di Teheran. Alasannya, mereka disebut telah membatalkan rencana eksekusi massal yang sempat dijadwalkan.
Tanggapan dari dalam negeri datang dari sosok tertinggi. Pada Sabtu (17/1), Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei bersikeras bahwa Iran tidak akan dibiarkan terjerumus ke dalam perang.
Namun begitu, ancaman hukuman mati ternyata belum benar-benar sirna. Sehari setelah pernyataan Khamenei, pihak kehakiman memberi sinyal yang berbeda. Juru Bicara Kehakiman Iran, Ashgar Jahangir, dalam sebuah konferensi pers menyatakan bahwa sejumlah tindakan demonstran telah diidentifikasi sebagai Mohareb.
“Ini merupakan salah satu hukuman Islam terberat,” ucap Jahangir. Mohareb, istilah yang berarti "berperang melawan Tuhan", dalam hukum Iran bisa dijatuhi hukuman mati.
Sementara itu, dalam wawancara dengan Politico di hari yang sama dengan pidato Khamenei, Trump kembali menyuarakan keinginannya. “Sudah saatnya mencari kepemimpinan baru di Iran,” katanya. Khamenei sendiri balik menuduh AS dan Israel dua musuh bebuyutan Iran sebagai dalang di balik kekerasan ini. Ia pun mengakui, meski dengan enggan, bahwa "beberapa ribu" nyawa telah melayang.
Artikel Terkait
Noe Letto di Wantimpres: Penunjukan Strategis atau Strategi Penjinakan?
Prabowo Menitikkan Air Mata di Pernikahan Sekretaris Pribadinya
Pernikahan di Tengah Banjir, Sukacita Tak Tergenang Air
Hujan Deras Guyur Jakarta, 38 RT dan 12 Ruas Jalan Masih Terendam