Di Auditorium Mutiara STIK/PTIK Polri, Jakarta Selatan, Kamis sore lalu, suasana buka puasa bersama terasa hangat. Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo hadir berdialog dengan perwakilan ormas, OKP, dan mahasiswa. Dalam kesempatan itu, ia tak sekadar bersilaturahmi, tapi juga menyampaikan pesan penting tentang peran generasi muda.
Menurut Sigit, pemuda punya peran strategis. Bahkan, sangat krusial untuk menjaga arah perjuangan bangsa ke depan. Di tengah kondisi dunia yang ia gambarkan sedang tidak baik, peran mereka makin dibutuhkan.
"Tentunya harapan kita, para pemuda tentunya juga mengawal dan berperan aktif dalam mengawal program-program dan tujuan pemerintah yang tertuang dalam misi Asta Cita, 17 program prioritas, dan 8 program terbaik cepat, serta sasaran prioritas nasional,"
ujar Jenderal Sigit dalam sambutannya.
Ia lalu merinci tantangan yang dihadapi. Konflik geopolitik, perang dagang, hingga fragmentasi terjadi di mana-mana. Ia mengutip Global Risk Report yang menyebut era sekarang sebagai The Age of Competition, sebuah era kompetisi global yang semakin tajam.
Namun begitu, masalahnya tak cuma di situ. Kejahatan transnasional juga mengintai. Mulai dari narkoba, judi online, perdagangan manusia, sampai penyelundupan senjata. Semua itu, kata dia, berpotensi memicu konflik yang dampaknya bisa merembet ke dalam negeri.
Di sisi lain, pemerintah tak tinggal diam. Program Asta Cita yang fokus pada kemajuan bangsa terus digenjot pelaksanaannya. Upaya diplomasi juga digencarkan agar Indonesia punya peran aktif menciptakan perdamaian dunia.
"Berbagai strategi saat ini dilaksanakan," jelasnya.
Strategi itu meliputi swasembada pangan, penyediaan makanan bergizi, hilirisasi industri, dan penguatan SDM. Ia juga menyebut program terkait lingkungan, seperti waste to energy, yang menurutnya perlu dukungan semua pihak.
Pada akhirnya, Sigit mengajak semua elemen bangsa untuk bersatu. Persatuan, katanya, adalah modal utama. Ia mengingatkan untuk tidak melupakan sejarah perjuangan bangsa yang dibangun bersama-sama.
"Mulai dari rekan-rekan pemuda, rekan-rekan aktivis, para ulama, masyarakat sipil, serta seluruh elemen bangsa lainnya... kesatuan dan persatuan itu menjadi modal utama,"
tutupnya, menekankan bahwa kerja keras kolektif itulah kunci menuju Indonesia Emas 2045.
Artikel Terkait
Nadiem Makarim Ajukan Pleidoi, Sebut Tak Ada Kerugian Negara dalam Pengadaan Chromebook
KPK Bantah Klaim Mantan Dirjen Haji Hilman Latief yang Tak Terima Aliran Uang Korupsi Kuota Haji
Pemerintah Pastikan Pengawasan dan Evaluasi Berkala Terhadap Badan Gizi Nasional
Dasco: Pergantian Kepala BGN karena Evaluasi Tata Kelola Program Makan Bergizi Gratis