Kuota Haji Plus Bocor ke Jalur Furoda, Uang Triliunan Menguap

- Minggu, 11 Januari 2026 | 11:40 WIB
Kuota Haji Plus Bocor ke Jalur Furoda, Uang Triliunan Menguap

Kuota Haji: Sebuah Drama yang Tak Pernah Usai

Inti masalahnya sebenarnya simpel, lho. Coba kita lihat ke belakang. Beberapa tahun lalu, Arab Saudi memberikan tambahan kuota sebanyak 20.000 jemaah. Nah, aturan mainnya sudah jelas di UU: 92% untuk haji reguler, dan sisanya 8% dialokasikan untuk haji khusus atau ONH Plus. Pembagian ini terbilang adil. Bayangkan, calon jemaah reguler antre puluhan tahun, dapat porsi terbesar. Sementara yang lewat jalur plus, antriannya cuma 5-7 tahun, dapat 8% ya sudah cukup.

Namun begitu, tiba-tiba saja ada pejabat yang main cantik. Aturan yang sudah baku itu dibalik seratus delapan puluh derajat. Kuota tambahan tiba-tiba dibagi rata: 50% untuk reguler, 50% untuk haji plus. Alasannya? Macam-macam. Katanya, waktunya mepet, prosesnya ribet, dan seabrek alasan lainnya. DPR konon setuju, pemerintah juga mengangguk. Jadilah aturan baru itu berlaku.

Tapi di sinilah ceritanya makin ruwet. Menurut sejumlah saksi dan laporan di lapangan, kuota yang seharusnya untuk haji plus itu tidak hanya dinikmati oleh mereka yang antri 5-7 tahun. Yang bikin geleng-geleng, kuota itu malah bocor ke jalur haji furoda yang notabene tidak perlu antri sama sekali!

Selama ini, furoda mengklaim visanya dari undangan langsung Kerajaan Arab Saudi. Kok bisa-bisanya pakai kuota tambahan ini? Padahal, biaya haji furoda itu selangit, bisa mencapai 500 juta hingga satu miliar rupiah per orang.

Coba kita hitung kasar. Jika ada 5.000 jemaah furoda yang mendapat jatah, dan masing-masing membayar rata-rata 400 juta, maka total uang yang berputar bisa menyentuh angka 2 triliun. Fantastis, bukan? Pesta pora duit pun terjadi.

Jadi, modusnya memang sederhana banget. Yang bikin runyam adalah reaksi para pelaku setelah kasus ini terkuak.

Pertama, pejabat terkait buru-buru bersikap "denial". "Kami kan cuma buat kebijakan," begitu kira-kira pembelaan mereka. "Soal uang mengalir ke mana, itu bukan urusan kami."

Kedua, biro perjalanan haji juga ikut-ikutan membantah. Para ustadz yang terlibat pun bersikap sama. Mereka mengaku sebagai korban, merasa ditipu oleh oknum pejabat.

Dan ketiga, para pendukung setia mereka mulai dari fans pejabat, pengagum biro travel, sampai pemuja ustadz ikut sibuk berkelit. Semua saling lempar tanggung jawab, saling menyalahkan.

Tapi mau jungkir balik bagaimana pun, faktanya tetap satu. Di saat banyak orang begitu sulit dan rela mengeluarkan kocek dalam-dalam untuk bisa naik haji, di situlah celah keuntungan muncul. Permainan pun dimulai.

Pola seperti ini sebenarnya sudah sangat tua. Sejak zaman Ken Arok dan Ken Dedes mungkin saja sudah ada. Kapan pun ada keinginan untuk jalan pintas, untuk dimudahkan, maka muncullah kuota-kuota dan jatah-jatah "khusus". Korupsi pun merajalela. Mirip dengan kasus masuk sekolah favorit, kuota impor, atau proyek-proyek mercusuar. Polanya nyaris selalu sama.

Dan yang paling lucu atau mungkin menyedihkan adalah reaksi mereka ketika kasus mulai terbuka. Tiba-tiba saja semua bergegas mengembalikan uangnya. Seolah-olah dengan mengembalikan barang bukti, segalanya akan selesai. Kocak, "tad!"

(TERE LIYE)

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar