Analisis Ekonomi Ungkap Kelemahan Dakwaan Kasus Sewa Terminal BBM Pertamina

- Selasa, 06 Januari 2026 | 05:25 WIB
Analisis Ekonomi Ungkap Kelemahan Dakwaan Kasus Sewa Terminal BBM Pertamina

Dugaan Kriminalisasi Kasus Kerry dan Pejabat Pertamina: Tuduhan Kemahalan Harga Sewa TBBM Itu Kekeliruan Fatal

Oleh: Anthony Budiawan
Managing Director PEPS (Political Economy and Policy Studies)

Surat dakwaan itu terasa janggal. Jaksa menuding Muhamad Kerry Adrianto Riza dan Muhamad Reza Chalid berkomplot dengan seorang pejabat Pertamina, Hanung Budya Yuktyanta. Inti tudingannya, mereka didakwa memanipulasi kalkulasi harga sewa terminal BBM milik PT Oiltanking Merak dan lainnya, sehingga harganya membengkak dan merugikan negara.

Lebih spesifik, jaksa menyebut Kerry dan Reza meminta Hanung agar seluruh nilai aset perusahaan dimasukkan ke dalam komponen perhitungan biaya sewa, atau thruput fee.

Nah, di sinilah masalahnya. Asumsi dasar jaksa ini, menurut saya, keliru secara fundamental. Bahkan bisa dibilang fatal. Mengapa?

Pertama, coba kita lihat praktik bisnis yang berlaku umum. Menetapkan harga sewa untuk aset jangka panjang seperti terminal BBM yang wajar, selalu mengacu pada tingkat pengembalian investasi. Ukurannya ya Return on Assets (ROA) atau Return on Investment (ROI). Logikanya sederhana: seluruh nilai aset itu adalah modal yang ditanam. Dan modal harus memberikan return. Itu prinsip dasar keuangan perusahaan yang sah dan lazim diterapkan di mana-mana, bukan cuma untuk terminal, tapi juga gedung perkantoran atau jalan tol. Jadi, memasukkan seluruh nilai aset dalam kalkulasi sewa bukanlah penyimpangan. Itu hal yang normal.

Kedua, soal klaim "kemahalan". Ini yang sering salah kaprah. Menilai sebuah harga disebut mahal atau tidak, itu tidak bisa dengan sekadar membandingkannya dengan nilai asetnya. Cara yang benar adalah membandingkannya dengan harga pasar untuk jasa yang sejenis. Tanpa acuan harga pasar yang relevan, klaim kemahalan itu cuma spekulasi. Kosong. Tidak punya dasar analitis yang kuat, apalagi dasar hukum.

Lalu ada faktor lain yang kerap terlupakan.

Ketiga, perhitungan harga sewa tidak cuma soal angka investasi awal. Struktur biaya operasional juga punya peran besar. Ambil contoh aset yang lebih baru dan modern. Nilai investasinya mungkin lebih tinggi, tapi di sisi lain, operasionalnya biasanya jauh lebih efisien. Biaya jangka panjangnya bisa lebih rendah. Artinya, harga sewa yang lebih tinggi belum tentu mencerminkan pemborosan. Bisa jadi itu cerminan layanan yang lebih baik dan efisien.


Halaman:

Komentar