Makassar – Awas, ada ancaman inflasi mengintip di awal tahun 2026. Peringatan ini datang dari Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Selatan, yang memprediksi tekanan harga, terutama pada pangan, bakal melonjak pada kuartal pertama tahun itu. Pemicunya? Kombinasi cuaca ekstrem dan momen hari raya yang saling berhimpitan.
Menurut BI Sulsel, risiko banjir di sebagian besar wilayah provinsi ini diprediksi meningkat pada Februari dan Maret mendatang. Cuaca buruk itu jelas mengancam produksi dan jalur distribusi. Alhasil, harga bahan pangan yang mudah bergejolak atau volatile food berpotensi meroket.
“Sebagian besar wilayah Sulsel berisiko banjir sedang seiring potensi peningkatan curah hujan pada bulan Februari dan Maret,” jelas Kepala Perwakilan BI Sulsel, Rizki Ernadi Wimanda.
Beberapa daerah sentra produksi disebutkan perlu mendapat perhatian khusus. Kabupaten Gowa, misalnya, yang jadi pusat hortikultura. Lalu ada Pangkep dan Maros sebagai penghasil bandeng. Gangguan di ketiga wilayah ini bisa langsung berdampak pada pasokan dan harga di daerah lain.
Di sisi lain, faktor kalender juga bikin situasi makin pelik. Imlek yang berdekatan dengan awal Ramadan, ditambah Lebaran yang nyambung dengan hari raya Nyepi, membuat jeda pemulihan stok jadi sangat sempit. Pola konsumsi yang melonjak dalam periode beruntun itu berisiko besar mendongkrak inflasi.
Memang, secara historis, awal tahun selalu jadi periode rawan untuk Sulsel.
“Inflasi yang terjadi pada komoditas pangan di Sulsel biasanya memang paling besar pada kuartal I,” papar Rizki di Makassar, Senin (23/2/2026).
“Secara data rata-rata sejak 2021-2025, inflasi komoditas pangan pada kuartal pertama mencapai 4,76%, lebih tinggi dibanding kuartal lainnya.”
Lalu, apa yang bisa dilakukan? BI menekankan, antisipasi harus segera dirancang. Gerakan Pangan Murah (GPM) harus dijalankan secara masif dengan prinsip tepat: tepat lokasi, sasaran, waktu, dan komoditas. Fokusnya pada barang-barang penyumbang inflasi saat Ramadan-Lebaran dan yang harganya sering tembus HET, seperti beras, cabai, bawang merah, minyak goreng, telur, dan gula pasir.
Namun begitu, strategi jangka pendek saja tak cukup. Rizki menambahkan, perlu upaya penguatan sistem logistik. Misalnya dengan mengoptimalkan cold storage dan membangun pabrik es mini di pelabuhan strategis untuk menjaga kesegaran ikan.
“Begitu pun dengan penerapan teknologi ozon perlu dilakukan untuk memperpanjang umur simpan hortikultura,” tuturnya.
Intinya, ancamannya nyata. Jika tidak diantisipasi dari sekarang, lonjakan harga di awal 2026 bisa benar-benar terjadi dan memberatkan masyarakat.
Artikel Terkait
Tito Desak Percepatan Pendataan untuk Cairkan Bantuan Pascabencana Sumatera
Harga Emas Antam Naik Rp40 Ribu per Gram, Tren Positif Berlanjut
PAM JAYA Bagikan 150 Toren Air Gratis ke Warga Kalideres
Kemensos Salurkan Bantuan Rp 2,5 Triliun untuk Korban Bencana di Tiga Provinsi