Pertama, pejabat terkait buru-buru bersikap "denial". "Kami kan cuma buat kebijakan," begitu kira-kira pembelaan mereka. "Soal uang mengalir ke mana, itu bukan urusan kami."
Kedua, biro perjalanan haji juga ikut-ikutan membantah. Para ustadz yang terlibat pun bersikap sama. Mereka mengaku sebagai korban, merasa ditipu oleh oknum pejabat.
Dan ketiga, para pendukung setia mereka mulai dari fans pejabat, pengagum biro travel, sampai pemuja ustadz ikut sibuk berkelit. Semua saling lempar tanggung jawab, saling menyalahkan.
Tapi mau jungkir balik bagaimana pun, faktanya tetap satu. Di saat banyak orang begitu sulit dan rela mengeluarkan kocek dalam-dalam untuk bisa naik haji, di situlah celah keuntungan muncul. Permainan pun dimulai.
Pola seperti ini sebenarnya sudah sangat tua. Sejak zaman Ken Arok dan Ken Dedes mungkin saja sudah ada. Kapan pun ada keinginan untuk jalan pintas, untuk dimudahkan, maka muncullah kuota-kuota dan jatah-jatah "khusus". Korupsi pun merajalela. Mirip dengan kasus masuk sekolah favorit, kuota impor, atau proyek-proyek mercusuar. Polanya nyaris selalu sama.
Dan yang paling lucu atau mungkin menyedihkan adalah reaksi mereka ketika kasus mulai terbuka. Tiba-tiba saja semua bergegas mengembalikan uangnya. Seolah-olah dengan mengembalikan barang bukti, segalanya akan selesai. Kocak, "tad!"
(TERE LIYE)
Artikel Terkait
Ketika Musibah Datang, Inilah Kunci Menghadapinya Menurut Al-Quran dan Hadits
Meteo MSN: Andalan Baru untuk Menaklukkan Cuaca yang Tak Terduga
Dokter Tifa Sindir Orang Hina Usai Tersangka Kasus Ijazah Sowan ke Jokowi
Pandji Buka Suara Soal Anies yang Lolos dari Sindiran di Spesial Netflix