Anggota DPR Apresiasi Keberhasilan Hilirisasi Bawang Merah di Brebes

- Kamis, 26 Februari 2026 | 17:05 WIB
Anggota DPR Apresiasi Keberhasilan Hilirisasi Bawang Merah di Brebes
Artikel Brebes

Kabupaten Brebes punya cerita baru. Dari Desa Sidamulya, capaian produksi Pabrik Pengolahan Bawang Merah yang dikelola Kelompok Tani Sidomakmur dan PT Sinergi Brebes Inovatif menuai pujian. Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi Partai Gerindra, Endang Setyawati Thohari, tak ragu memberi apresiasi.

Bagi Endang, ini bukti nyata. Hilirisasi dan pemetaan potensi pertanian yang terarah ternyata berdampak besar. Visi pemerintahan Prabowo Subianto untuk ketahanan pangan dan kesejahteraan petani, katanya, menemukan bentuk konkretnya di sini.

"Hilirisasi bukan sekadar meningkatkan produksi, melainkan membangun kemandirian desa dan memastikan kesejahteraan petani tetap terjaga di tengah dinamika pasar global,"

ujar Endang dalam keterangan tertulisnya, Kamis lalu.

Ia terlihat antusias. Produksi bawang merah Brebes ini, menurutnya, bisa jadi contoh bagus. Pengelolaan pertanian yang berbasis potensi wilayah lokal. Dengan pemetaan zona agroekologi yang tepat, ketergantungan pada impor seharusnya bisa ditekan bahkan dihilangkan.

"Saya sangat bangga dan kagum. Seandainya kita memetakan agroecological zone dengan baik, seharusnya tidak perlu ada impor bawang,"

tegasnya.

Namun begitu, ingatannya melayang ke masa lalu. Sekitar 15 tahun silam, situasinya sungguh berbeda. Panen raya justru berbarengan dengan kebijakan impor. Akibatnya bisa ditebak: harga anjlok, petani merugi. Saat itu, kelebihan pasokan sampai-sampai bawang merah dibagikan gratis ke pengendara di jalan.

Syukurlah, kondisi itu perlahan berubah. Endang melihat, hilirisasi dan penguatan kelembagaan petani lewat koperasi desa punya peran kunci. Dua hal ini mampu menjaga stabilitas harga dan menguatkan ekonomi pedesaan.

"Saya bangga sekarang sudah ada perubahan, apalagi dengan adanya hilirisasi dan koperasi desa merah putih. Ini penting agar tidak terjadi pelarian modal dari desa ke kota. Kalau melalui bank ada banyak ketentuan, sedangkan koperasi hasil usahanya kembali untuk kesejahteraan anggotanya,"

imbuhnya.

Di sisi lain, prestasi ekspor tak kalah menarik. Bawang merah Brebes sudah menembus pasar sejumlah negara tetangga. Ini sekaligus bukti bahwa komoditas lokal Indonesia sanggup bersaing di kancah internasional, yang ujung-ujungnya tentu menambah pundi pendapatan petani.

Dari segi angka, hitungannya cukup menjanjikan. Endang memaparkan, biaya produksi per hektare lahan bawang merah sekitar Rp140 juta. Hasil panennya? Bisa mencapai Rp250 juta hingga Rp350 juta.

"Dihitung, satu hektare membutuhkan biaya sekitar Rp 140 juta dan setelah panen bisa menghasilkan Rp250 juta sampai Rp350 juta. Itu luar biasa. Saya yang doktor saja belum tentu mendapat penghasilan sebesar itu,"

tambahnya sambil tertawa ringan.

Ke depan, model hilirisasi ala Brebes ini diharapkan bisa jadi strategi besar. Bisa diterapkan di desa-desa lain yang punya potensi unggulan serupa. Tapi Endang juga mengingatkan satu hal penting: jaga baik-baik komoditas lokal kita.

"Jangan sampai potensi kita dimanfaatkan negara lain. Selama ini ada komoditas seperti jengkol dan petai yang justru dicap dari Thailand, padahal berasal dari Indonesia,"

tegasnya menutup perbincangan.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar