"Saya bangga sekarang sudah ada perubahan, apalagi dengan adanya hilirisasi dan koperasi desa merah putih. Ini penting agar tidak terjadi pelarian modal dari desa ke kota. Kalau melalui bank ada banyak ketentuan, sedangkan koperasi hasil usahanya kembali untuk kesejahteraan anggotanya,"
imbuhnya.
Di sisi lain, prestasi ekspor tak kalah menarik. Bawang merah Brebes sudah menembus pasar sejumlah negara tetangga. Ini sekaligus bukti bahwa komoditas lokal Indonesia sanggup bersaing di kancah internasional, yang ujung-ujungnya tentu menambah pundi pendapatan petani.
Dari segi angka, hitungannya cukup menjanjikan. Endang memaparkan, biaya produksi per hektare lahan bawang merah sekitar Rp140 juta. Hasil panennya? Bisa mencapai Rp250 juta hingga Rp350 juta.
"Dihitung, satu hektare membutuhkan biaya sekitar Rp 140 juta dan setelah panen bisa menghasilkan Rp250 juta sampai Rp350 juta. Itu luar biasa. Saya yang doktor saja belum tentu mendapat penghasilan sebesar itu,"
tambahnya sambil tertawa ringan.
Ke depan, model hilirisasi ala Brebes ini diharapkan bisa jadi strategi besar. Bisa diterapkan di desa-desa lain yang punya potensi unggulan serupa. Tapi Endang juga mengingatkan satu hal penting: jaga baik-baik komoditas lokal kita.
"Jangan sampai potensi kita dimanfaatkan negara lain. Selama ini ada komoditas seperti jengkol dan petai yang justru dicap dari Thailand, padahal berasal dari Indonesia,"
tegasnya menutup perbincangan.
Artikel Terkait
PDIP Larang Kader Manfaatkan Program Makan Bergizi Gratis untuk Kepentingan Pribadi
TNI Buka Rakor Intelijen 2026, Siap Hadapi Tantangan Keamanan Multidimensi
Menteri Zulhas Bantah Impor Beras dan Ayam dari AS, Klaim Stok Pangan Surplus
Kapolri Ajak Ormas dan Mahasiswa Jadikan Polri Mitra, Bukan Sekadar Penjaga