Gagalnya Perundingan AS-Iran Dorong Harga Minyak Tembus US$100, Saham Migas RI Menguat

- Senin, 13 April 2026 | 10:15 WIB
Gagalnya Perundingan AS-Iran Dorong Harga Minyak Tembus US$100, Saham Migas RI Menguat

Jakarta - Lagi-lagi, perundingan AS dan Iran mentok. Kali ini di Pakistan. Hasilnya? Nihil. Dan seperti yang sudah diduga, sentimen itu langsung mendorong harga minyak global melonjak, bahkan tembus di atas level psikologis US$100 per barel.

Di tengah gejolak itu, justru ada angin segar untuk pasar saham domestik. Saham-saham sektor minyak dan gas (migas) di Bursa Efek Indonesia kompak menguat di pembukaan perdagangan pagi ini.

Data dari trading view sekitar pukul 09.20 WIB mencatat, harga minyak Brent melesat 8,55% ke posisi US$102,30 per barel. Kenaikan tajam ini langsung direspons positif oleh investor lokal.

PT Energi Mega Persada Tbk. (ENRG) menguat 2,05% ke Rp1.740. Bersamanya, saham PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) juga naik 3,54% ke Rp1.610. Tak ketinggalan, saham PT AKR Corporindo Tbk. (AKRA) merangkak naik 1,08% ke Rp1.405.

Gelombang penguatan ternyata cukup luas. Saham-saham seperti Elnusa (ELSA), Perusahaan Gas Negara (PGAS), Rukun Raharja (RAJA), dan Raharja Energi Cepu (RATU) juga ikut mencatatkan keuntungan, dengan kenaikan bervariasi antara 1,5% hingga hampir 3%.

Lantas, ke mana arah harga minyak selanjutnya? Analis dari BRI Danareksa Sekuritas, Andhika Audrey dan Naura Reyhan Muchlis, punya tiga skenario. Semuanya bergantung pada tingkat eskalasi konflik AS-Iran dan potensi gangguan di Selat Hormuz jalur perdagangan minyak yang super vital.

Jika gangguannya ringan, harga Brent bisa bertengger di kisaran US$80-US$90 per barel. Skenario kedua, jika gangguan berlanjut, lonjakan ke level US$105-US$115 per barel sangat mungkin terjadi. Yang paling ekstrem, jika konflik berkepanjangan, jangan kaget melihat harga minyak melejit ke angka US$110-US$135 per barel.

“Meski ada laporan peningkatan arus di Selat Hormuz belakangan, kami tetap memandang skenario gangguan moderat sebagai dasar analisis kami,” tulis tim analis dalam risetnya.

Dengan asumsi itu, mereka memproyeksikan sektor hulu migas akan tampil lebih baik (outperform) dibanding sektor lain dalam tiga bulan ke depan.

Di antara banyak pilihan, MEDC jadi rekomendasi utama BRI Danareksa. Target harganya Rp2.000. Alasan mereka kuat. Perusahaan ini punya target produksi migas yang ambisius di tahun 2026, sekitar 165.000-170.000 barel setara minyak per hari. Selain itu, laba MEDC dikenal sangat sensitif terhadap pergerakan harga minyak dunia.

Namun, tidak semua analis sepakat. Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Hari Rachmansyah, punya favorit lain.

“Emiten ENRG berhasil bergerak uptrend dan bertahan di atas area psikologis Rp1.700. Dengan harga minyak yang naik karena sentimen kenaikan harga minyak global membuat sentimen positif bagi saham ENRG,” jelas Hari.

IPOT memberikan target harga Rp1.925 untuk saham ENRG.

Tapi hati-hati. Di balik sentimen positif untuk saham migas, ada bayangan risiko yang mengintai indeks secara keseluruhan. Konflik AS-Iran yang berlarut-larut bisa jadi bumerang bagi IHSG. Apalagi indeks sedang dalam fase rebound, menguat 6,14% hanya dalam sepekan terakhir.

Menurut Hari, keberlanjutan tren penguatan ini sangat bergantung pada dua hal: stabilitas geopolitik global dan apakah aliran dana domestik bisa konsisten menopang pasar.

“Kegagalan perundingan ini memperpanjang ketidakpastian geopolitik. Investor jelas khawatir dengan potensi eskalasi yang bisa mengacaukan pasar energi,” ujarnya.

Ia menambahkan, sentimen negatif terutama datang dari risiko gangguan di rantai pasok energi global. Kawasan Timur Tengah, terutama Selat Hormuz, tetap jadi titik rawan yang bisa mengguncang segalanya.

Memang, apa yang sebenarnya terjadi di meja perundingan? Wakil Presiden AS JD Vance mengaku proposal AS, yang salah satunya berisi larangan pembangunan senjata nuklir, ditolak oleh Iran.

Di sisi lain, pihak Iran justru menyalahkan permintaan AS yang dianggap merusak potensi kesepakatan. Menariknya, sebelum perundingan panjang 21 jam itu dimulai, militer AS sempat menyebut ada persiapan untuk membuka Selat Hormuz sebuah isu yang kemudian jadi pembahasan utama.

_____

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Media ini tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi Anda.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar