Bencana banjir dan longsor yang melanda Aceh akhir November lalu meninggalkan luka yang dalam, terutama bagi dunia pendidikan. Atip Latipulhayat, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, mengungkapkan bahwa kerusakan menjangkau 2.756 sekolah di provinsi tersebut. Angka yang tak main-main.
Dalam rapat koordinasi Satgas Pemulihan Pascabencana DPR RI bersama satgas bentukan pemerintah di Banda Aceh, Sabtu (10/1), Atip memberikan penjelasan rinci.
"Di Aceh ini jumlah sekolah terdampak 2.756," ujarnya.
"Sekolah yang memerlukan proses pembersihan ada 283, dan ditargetkan selesai akhir Januari 2026 untuk pembersihan ini."
Meski terdengar parah, ada secercah kabar baik di tengah situasi yang sulit ini. Ternyata, sekitar 90 persen sekolah sudah bisa kembali menggelar pembelajaran. Rinciannya, sebanyak 2.428 sekolah sudah kembali belajar di gedung asli mereka. Lalu, ada 20 sekolah yang terpaksa memakai tenda, dan sekitar 25 lainnya menumpang di sekolah tetangga.
"Jadi total 2.471 sekolah," katanya, merincikan angka tersebut. "Sehingga yang siap melakukan pembelajaran itu sudah 90 persen."
Kabupaten Aceh Tamiang disebut-sebut jadi daerah yang paling terpukul. Pada 5 Januari, hari pertama anak-anak kembali ke sekolah, kehadiran siswa ternyata masih jauh dari normal.
"Kehadiran guru 90 persen, sedangkan siswa baru 70 persen karena kondisi di pengungsian dan lain sebagainya," jelas Atip.
Artikel Terkait
Hujan Tak Henti, Dua Jembatan di Donggala Putus Diterjang Banjir
Wajah Kita di Ujung Tangan AI: Pemerintah Tutup Akses Grok AI
Iran di Ambang Perubahan: Dari Protes Ekonomi ke Gugatan Sistem
Di Gereja Baciro, Perbedaan Ditangguhkan untuk Doa Bersama