Kalau bicara soal kerusakan fisik, datanya cukup mencengangkan. Kemendikdasmen mencatat 841 sekolah mengalami rusak ringan. Lalu, ada 1.185 sekolah dengan kerusakan tingkat sedang. Yang paling memprihatinkan, 965 sekolah lainnya masuk kategori rusak berat.
Di sisi lain, bantuan logistik masih berjalan tertatih. Dari 84.600 paket school kit yang dibutuhkan, baru 15.500 paket yang sampai. Begitu pula dengan ruang kelas darurat. Kebutuhannya 165 unit, tapi yang berhasil didirikan baru 97 unit. Untuk tenda belajar, dari 82 unit yang diperlukan, baru 34 unit yang terpasang. Bantuan psikososial dan Dana Operasional Pendidikan Darurat sendiri diklaim sudah mulai disalurkan.
Butuh Alat Berat, Bukan Cuma Sapu
Untuk mempercepat pemulihan, pemerintah melalui Kemendikdasmen sudah menggelontorkan bantuan biaya pembersihan. Bantuan itu menjangkau 956 sekolah, dengan nilai yang bervariasi.
"Kemendikdasmen sudah memberikan bantuan biaya kepada 956 sekolah, dengan besaran bantuan antara 5 sampai 50 juta per sekolah," ucap Atip.
Namun begitu, uang saja ternyata tidak cukup. Tantangan terbesar justru ada di lapangan. Banyak sekolah yang terkubur lumpur tebal, membuat proses pembersihan manual hampir mustahil.
"Banyak sekolah yang memang harus memerlukan alat berat, tidak bisa secara manual," pungkasnya. Pernyataan itu sekaligus menegaskan bahwa jalan menuju pemulihan total masih panjang dan berliku.
Artikel Terkait
Hujan Tak Henti, Dua Jembatan di Donggala Putus Diterjang Banjir
Wajah Kita di Ujung Tangan AI: Pemerintah Tutup Akses Grok AI
Iran di Ambang Perubahan: Dari Protes Ekonomi ke Gugatan Sistem
Di Gereja Baciro, Perbedaan Ditangguhkan untuk Doa Bersama