Asia Timur dan Pasifik: Lapangan Kerja Tumbuh, Tapi Kualitasnya Tergerus

- Sabtu, 10 Januari 2026 | 07:25 WIB
Asia Timur dan Pasifik: Lapangan Kerja Tumbuh, Tapi Kualitasnya Tergerus

Embun pagi masih menempel di jendela ketika kerumunan orang bergegas menuju tempat kerja. Di Asia Timur dan Pasifik, statistik ketenagakerjaan memang terlihat solid lebih baik dari rata-rata global. Tapi coba lihat lebih dekat. Di balik angka-angka yang tampak meyakinkan itu, tersembunyi kegelisahan yang tak tercatat. Banyak anak muda yang kesulitan mendapatkan pijakan pertama di dunia kerja. Sektor informal dipadati oleh pekerja dengan produktivitas rendah. Dan yang mengkhawatirkan, di sebagian besar negara, jumlah kelas rentan justru melampaui kelas menengah.

Laporan Ekonomi Bank Dunia untuk kawasan ini, yang terbit Oktober 2025, memotret persis keadaan itu. Intinya: lapangan kerja memang tercipta, tapi kualitasnya tidak mengimbangi kuantitas. Produktivitas tertatih-tatih. Dan mesin yang dulu menjadi andalan untuk menciptakan pekerjaan produktif, kini mulai kehilangan tenaga.

Pertumbuhan Melambat, Harapan Tertekan

Memang, pertumbuhan ekonomi kawasan ini masih lebih kencang dibanding belahan dunia lain. Namun begitu, lajunya sudah tidak secepat dulu. Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan akan melorot jadi sekitar 4,8% di tahun 2025, lalu melambat lagi di 2026. China, misalnya, diperkirakan turun dari 4,8% menjadi 4,2%. Indonesia cenderung stagnan di angka 4,8%. Vietnam masih bertengger di posisi relatif tinggi, meski trennya juga menurun.

Perlambatan ini bukan cuma urusan dalam negeri. Faktor eksternal punya andil besar. Hambatan perdagangan makin menjadi. Ketidakpastian kebijakan global melonjak ke level tertinggi dalam beberapa dekade. Pertumbuhan negara-negara maju juga melemah. Bank Dunia memberi catatan serius: penurunan satu poin persentase pertumbuhan di negara G7 bisa memangkas pertumbuhan negara berkembang di Asia Timur dan Pasifik sekitar 0,6 poin di tahun berikutnya.

Dunia usaha merespons dengan sikap hati-hati. Investasi banyak yang ditahan. Rencana ekspansi dan rekrutmen karyawan ditunda. "Wait and see" seolah jadi mantra baru yang dipegang erat oleh para pelaku bisnis.

Anak Muda Tersisih di Tengah Lapangan Kerja

Secara statistik, sebagian besar pencari kerja di kawasan ini akhirnya dapat pekerjaan. Tapi laporan itu menyoroti ironi yang menyakitkan: kaum muda justru kesulitan masuk. Di China dan Indonesia, contohnya, satu dari tujuh orang muda menganggur. Angka pengangguran kelompok usia 15-24 tahun jauh lebih tinggi ketimbang kelompok usia lain.

Masalah ini makin runyam karena perubahan struktur ekonomi. Dulu, antara 1970-an hingga 1990-an, tenaga kerja berpindah dari pertanian ke manufaktur dan jasa yang produktif. Sekarang? Sejak awal 2000-an, perpindahan justru mengarah ke sektor jasa informal dengan produktivitas rendah, seperti ritel atau konstruksi. Pergeseran yang dulu jadi motor penggerak kelas menengah, kini dayanya melemah.

Akibatnya bisa ditebak. Kelas rentan membengkak jumlahnya. Di banyak negara di kawasan ini, orang yang hidup dalam kondisi rentan jumlahnya lebih banyak daripada kelas menengah. Hanya segelintir negara seperti Malaysia, Thailand, China, dan Vietnam yang berhasil membangun kelas menengah hingga lebih dari 40% populasinya, berkat transformasi struktural yang lebih berhasil.

Robot: Teman atau Lawan?

Di sini, teknologi hadir sebagai paradoks. Robot industri terbukti mendongkrak produktivitas dan bahkan menciptakan lapangan kerja baru di beberapa tempat. Ambil contoh Vietnam. Penambahan satu robot per seribu pekerja di sana justru meningkatkan kesempatan kerja di tingkat distrik sekitar 6-9%, sekaligus menaikkan upah 2-4%.


Halaman:

Komentar