Tapi manfaatnya tidak merata. Antara 2018 dan 2022, penggunaan robot industri menciptakan sekitar dua juta pekerjaan formal yang membutuhkan keterampilan tinggi. Di sisi yang berseberangan, sekitar 1,4 juta pekerjaan informal berketerampilan rendah justru hilang, mendorong pekerja kembali ke sektor informal.
Lalu bagaimana dengan AI? Dampak empirisnya belum terasa luas. Risiko kehilangan pekerjaan karena AI di Asia Tenggara sebenarnya lebih rendah dibanding negara maju, karena hanya sekitar 13% pekerjaan yang melibatkan tugas kognitif non-rutin. Namun begitu, justru karena itu pula potensi manfaat AI bagi kawasan ini juga lebih terbatas.
Napas Perusahaan Baru yang Makin Pendek
Ada satu hal yang sering terlewat dari perbincangan publik. Bukan usaha kecil yang jadi pahlawan utama penciptaan lapangan kerja, melainkan perusahaan-perusahaan baru. Di Malaysia dan Vietnam, perusahaan baru menyumbang 57% total lapangan kerja dan bahkan hingga 79% pekerjaan baru yang tercipta antara 2000 dan 2019.
Sayangnya, laju kelahiran perusahaan baru ini menurun di hampir seluruh kawasan. Pertumbuhan startup setelah mereka masuk pasar juga lambat. Di AS, startup yang bertahan bisa menambah tenaga kerja hingga tujuh kali lipat dalam 30 tahun. Di China, hanya empat kali. Di Vietnam, angkanya bahkan kurang dari dua kali lipat.
Apa penyebabnya? Hambatan masuk pasar, dominasi BUMN di sektor-sektor strategis, plus regulasi yang justru membatasi persaingan semua itu menjadi ganjalan serius bagi dinamika bisnis.
Jalan Reformasi yang Masih Panjang
Kesimpulan dari laporan Bank Dunia cukup jelas: mendorong pertumbuhan jangka pendek cuma dengan stimulus fiskal tidak akan cukup. Reformasi domestik yang lebih mendalam jauh lebih menentukan. Investasi di kesehatan, pendidikan, dan pelatihan adalah kunci untuk meningkatkan kapasitas manusia. Infrastruktur fisik dan digital mutlak diperlukan untuk membuka peluang ekonomi. Dan yang paling sulit: memastikan semua itu berjalan beriringan.
Asia Timur dan Pasifik punya sejarah gemilang. Transformasi struktural pernah mengangkat jutaan orang dari kemiskinan. Tapi tantangan sekarang berbeda. Dunia lebih proteksionis. Teknologi bergerak sangat cepat. Sementara itu, generasi muda hanya menunggu di depan pintu yang seolah tak kunjung terbuka lebar.
Pekerjaan itu masih ada. Tapi pekerjaan yang bermartabat, produktif, dan menjanjikan masa depan? Itu yang semakin langka. Di situlah pertaruhan sesungguhnya bagi kawasan ini. Bukan cuma soal menjaga angka pertumbuhan, melainkan memastikan setiap orang mendapat tempat yang layak di dalamnya.
|WAW-JAKSAT
Artikel Terkait
Diplomasi Prabowo Berbuah, Indonesia Pimpin Dewan HAM PBB
Dari Hatta hingga Gibran: Ironi Kualitas Wakil Presiden di Tengah Gelombang Literasi
Gelombang Kerusuhan Iran: IRGC Tuding Kelompok Teroris, Korban Jiwa Berjatuhan
Gempa 7,1 SR Guncang Talaud, Warga Panik Berlarian