Sebuah video yang diunggah seorang ibu di Instagram benar-benar viral. Dalam rekaman itu, seorang balita terlihat dengan sengaja memasukkan jarinya ke dalam mulut, berulang kali, sampai akhirnya muntah. Adegan ini langsung memicu kecemasan dan tanya di kalangan netizen, terutama para orang tua. Pertanyaan besarnya: apakah ini masih perilaku wajar untuk anak seusianya, atau justru sinyal alarm dari sebuah masalah?
Normal atau Harus Khawatir? Ini Kata Dokter
Menanggapi kegelisahan itu, dr. Aisya Fikritama, Sp.A, seorang Dokter Spesialis Anak, memberikan penjelasannya. Intinya, perilaku memasukkan jari hingga muntah ini bisa saja masuk dalam batas normal. Tapi, kata kuncinya ada pada usia anak, seberapa sering ia melakukannya, dan dalam situasi seperti apa.
Untuk bayi di bawah setahun, hal ini umumnya tak perlu dikhawatirkan. Di usia 0-12 bulan, memasukkan tangan atau jari ke mulut adalah bagian dari fase oral. Mereka sedang menjelajahi dunia lewat mulutnya. Nah, refleks muntah (gag reflex) bayi juga masih sangat sensitif. Sentuhan kecil di area belakang lidah saja sudah cukup untuk memicu muntah. Ini alami dan biasanya akan berkurang seiring waktu.
Memasuki usia balita, sekitar 1 sampai 3 tahun, perilaku ini masih mungkin ditemui. Namun begitu, orang tua perlu mulai jeli. Kalau cuma sesekali, mungkin masih wajar-wajar saja.
“Namun bila sering, disengaja, dan tampak berulang, orang tua perlu mulai mengamati penyebab di balik perilaku tersebut,”
demikian penjelasan dr. Aisya saat dihubungi.
Lain ceritanya jika anak sudah berusia di atas 3 tahun. Jika kebiasaan ini masih sering terjadi dan menetap, dr. Aisya menegaskan bahwa kondisi itu sudah tidak dianggap normal. Evaluasi lebih lanjut oleh tenaga kesehatan sangat dianjurkan.
Lantas, apa sih yang mendorong anak melakukan hal ini? Menurut dokter, penyebabnya bisa beragam. Yang paling dasar tentu refleks fisiologis, terutama pada bayi dan balita kecil dengan refleks muntah yang super sensitif. Tapi di sisi lain, ada faktor-faktor lain yang perlu dipertimbangkan.
Pertama, soal regulasi emosi. Balita kerap belum punya kosakata yang cukup untuk mengungkapkan perasaannya. Rasa frustasi, bosan, cemas, atau ketidaknyamanan bisa ia lampiaskan lewat perilaku fisik, termasuk kebiasaan memasukkan jari ini.
Kedua, bisa jadi ini cara mereka mencari perhatian. Bayangkan: setiap kali si kecil muntah, orang tuanya langsung panik, marah, atau memberikan perhatian ekstra. Anak akan cepat belajar bahwa tindakan itu adalah cara ampuh untuk mendapat respons. Akhirnya, ia pun mengulanginya.
Ketiga, ini mungkin bagian dari kebiasaan atau perilaku berulang yang lebih kompleks. Apalagi jika disertai tanda lain seperti keterlambatan bicara, kurangnya kontak mata, atau gerakan repetitif lain. Dalam kasus seperti ini, skrining tumbuh kembang dan konsultasi ke Dokter Spesialis Anak menjadi langkah penting.
“Lalu faktor medis tertentu. Misalnya refluks lambung, gangguan pencernaan, atau sensitif oral tertentu, meskipun ini relatif lebih jarang,”
tutup dr. Aisya menyempurnakan penjelasannya.
Jadi, intinya, konteks adalah segalanya. Orang tua diajak untuk lebih mengamati, bukan langsung panik. Kadang, yang dibutuhkan anak hanya pengalihan yang lembut dan perhatian yang tepat.
Artikel Terkait
Bus Shalawat Kembali Beroperasi Penuh di Makkah Setelah Sempat Tertunda 12 Jam
Ziva Magnolya Kejutkan Penonton Java Jazz 2026 dengan Lagu Legendaris ‘Spain’
Vilmei Buka Suara soal Putus dari Willie Salim, Singgung soal Kurang Dihargai
Dokter Tegaskan Vaksin Meningitis dan Japanese Encephalitis Berbeda, Pemberiannya Sesuai Risiko Perjalanan