Dari Hatta hingga Gibran: Ironi Kualitas Wakil Presiden di Tengah Gelombang Literasi

- Minggu, 11 Januari 2026 | 11:20 WIB
Dari Hatta hingga Gibran: Ironi Kualitas Wakil Presiden di Tengah Gelombang Literasi

✍🏻 Nur Fitriyah As’ad

Dulu, di masa awal kemerdekaan, buta huruf masih jadi masalah besar di Indonesia. Tapi menariknya, justru di era itu kita punya sederet wakil presiden yang kualitas intelektualnya tak perlu diragukan lagi. Mereka benar-benar orang-orang pilihan.

Lalu, apa yang terjadi sekarang? Kita hidup di zaman kecerdasan buatan, di mana informasi ada di ujung jari. Namun, anehnya, kualitas wapres justru seolah merosot. Sebuah ironi yang sulit dipungkiri.

Coba kita lihat sekilas rekam jejak mereka.

Ada Mohammad Hatta, Bapak Koperasi kita, yang menyabet gelar dari Handelshogeschool di Rotterdam, Belanda.

Lalu Sultan Hamengkubuwono IX. Beliau bukan cuma raja, tapi juga lulusan hukum ternama di Leiden, Belanda. Kombinasi yang langka.

Adam Malik mungkin tak punya gelar akademis mentereng, tapi kepiawaiannya sebagai diplomat dan jurnalis kelas kakap sudah diakui dunia.

Masuk ke kalangan militer, ada Umar Wirahadikusumah dan Try Sutrisno yang merupakan lulusan akademi militer pilihan. Mereka dibentuk oleh disiplin dan institusi yang ketat.


Halaman:

Komentar