Langkah Haji Isam merambah dunia kripto jelas bukan sekadar diversifikasi bisnis belaka. Di tengah sorotan global soal pencucian uang dan penghindaran pajak, keputusan seorang konglomerat lama ini justru memunculkan pertanyaan yang cukup sensitif. Kenapa kripto? Dan kenapa sekarang?
Memang, kripto sering digembar-gemborkan sebagai simbol transparansi. Semua transaksinya tercatat di blockchain, katanya. Tapi, transparansi teknis itu beda dengan transparansi identitas. Inilah paradoksnya: jejak transaksi bisa dilihat semua orang, tapi siapa yang sebenarnya bertransaksi? Itu seringkali masih tersembunyi di balik tirai anonimitas.
Nah, ada satu fakta yang jarang diungkap secara blak-blakan. Money laundering lewat kripto ternyata jauh lebih sulit dilacak, apalagi kalau pelakunya paham teknologi. Mereka pakai cold wallet, misalnya. Dengan menyimpan aset secara offline, aliran dana bisa menghindari bursa kripto resmi yang wajib menerapkan aturan KYC (Know Your Customer). Akibatnya, negara praktis kehilangan "mata" untuk mengawasi pergerakan uang.
Bagi pemain bermodal besar, kripto menawarkan lebih dari sekadar peluang spekulasi. Ini adalah sistem keuangan paralel yang lintas negara, minim birokrasi, dan kecepatannya seringkali mengalahkan regulator. Wajar saja publik khawatir. Ketika pengawasan masih tertatih-tatih, masuknya pemain besar seperti Isam memantik dugaan: jangan-jangan kripto sedang disiapkan jadi brankas baru yang lebih aman dari jerat hukum?
Artikel Terkait
Indonesia dan Turki Sepakati Aksi Nyata, Dari Gaza hingga Industri Pertahanan
Prajurit Gugur di Nduga, Ayah Banggakan Tekad Baja Anaknya yang Tak Pernah Menyerah
Megawati Bikin Heboh, Nyanyikan Cinta Hampa di Panggung Rakernas PDIP
Dendam Berdarah di Palangka Raya: Keponakan Tikam Paman Hingga Tewas