Banjir bandang melanda Tapanuli Tengah. Situasinya kacau. Di tengah kepanikan itu, nama Marlina Wiguna Lumban Tobing, seorang ibu Bhayangkari, tiba-tiba mencuat dan viral di media sosial. Kisahnya luar biasa.
Bayangkan, dia sampai harus memandu langsung pilot helikopter menuju Desa Bonandolok. Desa itu benar-benar terputus, tak ada jalan darat yang bisa dilalui. Tapi sebenarnya, perjalanan Marlina sampai ke titik itu penuh dengan duka dan kepiluan.
Bencana besar itu datang begitu tiba-tiba. Keluarga besarnya sendiri masih diliputi kesedihan mendalam. Empat anggota keluarga dari marga Tobing baru saja meninggal dunia tertimbun longsor. Mereka masih berencana melayat.
Namun begitu, di tengah kesedihan itu, Marlina memilih untuk membuka pintu rumahnya. Warga yang panik mengungsi berdatangan. Rumahnya selamat dari terjangan air, jadi dijadikan tempat berlindung.
"Kami masih berencana melayat ketika tiba-tiba banjir dan longsor terjadi di mana-mana. Rumah kami tidak terkena air, jadi warga mengungsi ke rumah kami. Listrik mati, air hilang, jaringan putus total. Rasanya gelap sekali," kenang Marlina, Minggu (7/12).
Kisah pilu lainnya datang Jumat pagi. Marlina bertemu warga dari kampungnya yang terlihat lelah. Mereka berjalan kaki 3-4 jam hanya untuk mencari beras. Uang mereka titipkan pada Marlina, minta dibelikan beras untuk dibawa pulang.
"Kami menangis semua ketika itu. Mereka benar-benar berjalan jauh hanya demi mencari beras. Saya antar dan saya doakan agar mereka tiba selamat ke kampung," ucapnya, suara terdengar haru.
Kondisi makin runyam. Kabar buruk datang: rumah orang tuanya dan beberapa rumah keluarga lain sudah amblas, hilang terbawa longsor. Putus asa? Tidak. Marlina malah bergerak. Bersama warga, mereka nekat mencari jalur alternatif ke Bukit Anugrah, menebas hutan secara manual dengan peralatan seadanya.
Upaya itu berlangsung sampai larut malam. Ponsel pada kehabisan baterai, suasana gelap gulita. Marlina lalu pergi ke Gedung Olahraga hanya untuk sekadar mengisi daya telepon. Di sanalah pertemuan tak terduga terjadi.
Dia bertemu dengan Gubernur Sumatera Utara dan Wakil Bupati. Karena Marlina satu-satunya yang paling paham medan dan titik-titik terdampak, Gubernur pun mengajaknya ikut dalam penerbangan survei.
"Dari atas terlihat seperti tidak ada penghuni, padahal warga sudah menyebar mencari tempat aman," ujar Marlina menggambarkan pemandangan pilu dari udara.
Koordinasi dengan pihak Lanud akhirnya membuahkan hasil. Selasa siang, mereka menemukan titik pendaratan. Helikopter menembus kabut dan mendarat darurat di sebuah wilayah terbuka, dengan Marlina sebagai pemandu dari dalam.
"Ketika saya turun dan melihat keluarga, kami langsung berpelukan. Itu hanya detik, tapi rasanya seperti selamanya," imbuhnya, menggambarkan momen haru itu.
Berkas aksi nekatnya, desa yang terisolasi itu akhirnya mendapat kiriman bantuan. Logistik yang sebelumnya mentok kini bisa masuk. Itu adalah harapan pertama bagi warga yang sudah hampir putus asa.
Di sisi lain, Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Pol Ferry Walintukan, memberikan apresiasi tinggi.
"Bu Marlina menunjukkan bahwa Bhayangkari tidak hanya mendampingi suami, tetapi juga hadir sebagai garda kemanusiaan. Keberaniannya membuka jalan komunikasi dan akses bantuan sangat berarti bagi keselamatan warga di wilayah terisolir," pungkas Ferry.
Sebuah cerita tentang kesedihan, yang justru melahirkan keberanian luar biasa. Di tengah kegelapan bencana, cahaya kemanusiaan tetap menyala.
Artikel Terkait
Muscab PPP Bone Sepakat Dukung Khairul Amran Pimpin Kembali Partai
Guru SMP di Indramayu Diduga Cabuli 22 Siswa, Pelaku Kabur Masuk DPO
Trump dan Melania Dievakuasi Darurat Usai Penembakan di Acara Makan Malam Wartawan Gedung Putih
Basarnas Cari Perempuan 51 Tahun Hilang di Hutan Battang Barat Palopo