Belasan media daring, dari yang nasional hingga daerah, ramai-ramai menyebarkan rilis palsu yang mengatasnamakan Mahfud MD. Pakar hukum tata negara itu disebut-sebut memberi pernyataan terkait kasus mantan Menag Yaqut Cholil Qoumas. Daftar medianya panjang: CNN Indonesia, Metro TV News, Viva, iNews, sampai Jawa Pos dan Tribun News ikut menyiarkan.
Rilis itu beredar sejak Minggu lalu. Menanggapi hal ini, Mahfud MD langsung buka suara. Lewat kanal YouTube resminya, dia dengan tegas membantah. Menurutnya, dia sama sekali tidak pernah memberi wawancara atau membuat keterangan tertulis soal kasus Yaqut.
"Apakah saya membuat rilis gitu? Sama sekali tidak," tegas Mahfud pada Senin pagi.
Ceritanya ternyata berawal dari ajakan silaturahmi. Seorang teman menghubunginya, menyampaikan bahwa kader Ansor ingin berkunjung ke rumahnya di Sleman, Yogyakarta. Mahfud pun menyambut baik.
"Jadi, ceritanya begini. Saya ditelepon seorang teman bahwa Ansor mau silaturahim ke tempat saya. Namanya Ansor, ya tentu saya terima karena saya pernah jadi Penasehat Ansor secara resmi. Sehingga saya katakan, kalau bicara soal hukum yang terkait ex-Ketua Ansor, Pak Yaqut, saya tidak lagi perlu bicara," ujar Mahfud.
Dia sepakat untuk menerima tamu itu sekitar pukul sepuluh pagi. Tapi begitu mereka datang, Mahfud justru kaget. Yang datang bukan sekadar bersilaturahmi. Mereka membawa kamera dan langsung berniat mewawancarainya tentang Gus Yaqut.
"Ternyata yang datang bukan orang Ansor. Dia sudah membawa kamera, lalu katanya mau wawancara tentang Gus Yaqut. Nah, saya bilang, saya tidak mau, lho, bicara soal Gus Yaqut karena keterangan saya sudah jelas. Tapi, kalau Anda mau diskusi, ayo lah," kenangnya.
Diskusi pun berjalan, meski Mahfud merasa ada yang janggal. Pembicaraannya terkesan memihak. Karena mereka sudah datang jauh-jauh, Mahfud akhirnya menawarkan wawancara dengan topik lain yang lebih proporsional. Misalnya, soal wewenang pimpinan KPK dalam menetapkan status tersangka.
Rupanya, rekaman obrolan itulah yang kemudian dipetik-petik dan disusun menjadi rilis yang menyesatkan.
"Iya, saya tidak bersedia diwawancara, tapi saya ngobrol saja sebagai tamu. Tapi, ketika akan pulang, kalau Anda sudah terlanjur datang, mari saya wawancara yang lain. Tampaknya yang wawancara itu hampir semuanya tidak ada yang dimuat. Ini mengambil dari... yang sudah saya katakan dulu, tapi dipetik-petik sesuatu yang memang seakan-akan ingin menyalahkan KPK dan seterusnya," pungkas Mahfud.
Artikel Terkait
Menkeu Yakin IHSG Tembus 10.000 Tahun Ini Meski Sempat Ambruk Jadi yang Terburuk se-Asia
Bayi 5 Bulan Tewas dalam Kecelakaan di Manado, Pengemudi Ditetapkan Tersangka
Andi Taletting Langi Terpilih Secara Aklamasi sebagai Ketua IKA Politik Unhas Periode 2026-2030
Dua Pelajar Tewas dalam Kecelakaan Maut di Perempatan Alun-Alun Purwodadi