Kondisi Timur Tengah yang memanas ternyata berdampak langsung pada arus jemaah umrah dari Indonesia. Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) mencatat, jumlah warga yang berangkat mengalami penurunan. Alasannya jelas: pertimbangan keselamatan.
Wakil Menteri Haji, Dahnil Anzar Simanjuntak, mengakui hal itu. Ia berbicara di sekitar Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Rabu (11/3/2026).
"Sementara, data kami memang ada penurunan yang berangkat karena mempertimbangkan keselamatan dan dinamika konflik itu tadi,"
Menurutnya, situasi di kawasan itu sangat dinamis. Perubahan bisa terjadi kapan saja, dan eskalasi konflik sulit diprediksi. Karena itulah, pemerintah lewat Kementerian Luar Negeri memberi saran khusus.
"Salah satu saran dari kementerian luar negeri memang adalah mengimbau untuk menunda keberangkatan, karena kan orientasi negara tentu adalah keselamatan warga negara, karena kan apa pun bisa terjadi. Kita tidak tahu eskalasi konflik di Timur Tengah seperti apa, karena dinamikanya sangat dinamis dan setiap saat mengalami perubahan,"
Intinya, keselamatan jadi prioritas utama. Imbauan untuk menunda perjalanan pun disampaikan.
Di sisi lain, masih ada puluhan ribu jemaah yang saat ini berada di Tanah Suci. Dahnil memberikan klarifikasi penting soal ini.
"Yang sekarang itu kan jemaah umrah di sana ada sekitar 43 ribu, bukan yang terjebak ya, sedang melaksanakan umrah. Sedang melaksanakan umrah ada sekitar 43.000, ini data terakhirnya,"
Jadi, angka sekitar 43 ribu itu merujuk pada jemaah yang sedang aktif beribadah, bukan mereka yang terisolasi atau dalam keadaan darurat. Situasi mereka tetap dipantau, sementara calon jemaah diimbau untuk bersabar sementara waktu.
Artikel Terkait
KPK Sita Rp 200 Juta dan Mobil Mewah dalam Kasus Suap Bupati Muara Enim ke BPK
Pentagon Tutup Sejumlah Area Usai Deteksi Cemaran Bahan Berbahaya di Dalam Gedung
Piala Dunia 2026 Dimulai di Tengah Ketegangan Global dan Polemik Visa Tiga Negara Tuan Rumah
Jumlah ASN Capai 6,7 Juta, BKN Percepat Digitalisasi dan Penguatan Sistem Merit