Piala Dunia 2026 Dimulai di Tengah Ketegangan Global dan Polemik Visa Tiga Negara Tuan Rumah

- Jumat, 12 Juni 2026 | 00:45 WIB
Piala Dunia 2026 Dimulai di Tengah Ketegangan Global dan Polemik Visa Tiga Negara Tuan Rumah

Dalam hitungan jam, panggung sepak bola terbesar di dunia akan resmi bergulir. Sorak suporter telah terdengar, menandai dimulainya Piala Dunia 2026 yang digelar secara bersama oleh Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Namun, di balik gemerlap turnamen, ajang olahraga paling bergengsi ini berlangsung di tengah situasi global yang dipenuhi ketidakpastian.

Persaingan ketat antarnegara di lapangan hijau bukan satu-satunya warna dalam penyelenggaraan kali ini. Berbagai isu geopolitik turut mewarnai, mulai dari ketegangan di Timur Tengah yang masih berlanjut seiring memanasnya konflik Iran dan Israel, hingga perang Rusia-Ukraina yang kini memasuki tahun kelima. Dampak dari konflik tersebut masih terasa signifikan terhadap stabilitas Eropa dan keamanan global.

Kondisi itu menempatkan isu keamanan sebagai salah satu prioritas utama. Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) bersama otoritas tiga negara tuan rumah kini menghadapi tantangan besar untuk menjamin keselamatan jutaan suporter, atlet, dan ofisial selama turnamen berlangsung.

Sementara itu, persoalan mobilitas dan perizinan visa juga menjadi sorotan tajam. Ketatnya regulasi visa memunculkan perdebatan mengenai akses dan kelancaran partisipasi seluruh pihak dalam ajang olahraga global tersebut.

Menteri Olahraga Iran, Ahmad Donyamali, melayangkan protes keras terhadap kebijakan negara tuan rumah yang dinilai menghambat partisipasi negaranya.

“Bagaimanapun, ini benar-benar perilaku yang tidak profesional. Banyak negara yang memiliki masalah dengan negara tuan rumah, dan saat ini ada banyak protes yang dilayangkan oleh berbagai negara,” tegas Donyamali.

“Berdasarkan regulasi FIFA dan Piagam Olimpiade, adalah tugas mereka (tuan rumah) untuk menyediakan kondisi yang terbaik bagi semua negara, tanpa memandang nama atau hal lainnya. Selain itu, mereka seharusnya memberikan perhatian yang lebih khusus dalam memprediksi dan menyediakan kondisi yang baik bagi kami. Karena mereka telah melihat bahwa kami bukanlah negara yang mau menerima paksaan atau tekanan,” tambahnya.

Tantangan visa tidak hanya dirasakan oleh Iran. Para penggemar dan ofisial dari negara-negara Afrika juga menyuarakan kekecewaan yang sama atas sulitnya menembus akses masuk ke negara tuan rumah.

Ridwan Issah, salah satu suporter asal Afrika, mengungkapkan rasa frustrasinya terhadap proses birokrasi yang dinilai sangat diskriminatif.

“Jika Anda melihat masalah proses visa, kamilah, orang Afrika, yang berjuang untuk mendapatkan visa agar bisa pergi dan mendukung negara kami. Jadi bagi kami, mereka telah mengecewakan kami,” keluh Ridwan.

Hal senada diungkapkan oleh Pelatih Sepak Bola, Abraham Nkansah. Ia menyoroti bagaimana aturan imigrasi telah menghalangi ribuan pendukung setia dari benua Afrika untuk hadir langsung di stadion.

“Negara-negara seperti Pantai Gading, Senegal, Afrika Selatan, dan lainnya, mereka menghadapi tantangan terkait visa, dan ini menyangkut para pendukung,” jelas Abraham.

Di sisi lain, terlepas dari berbagai polemik yang menyertai, ajang Piala Dunia kali ini kembali menunjukkan perannya sebagai instrumen diplomasi internasional. Di tengah hubungan antarnegara yang kerap diwarnai ketegangan politik dan krisis militer, sepak bola masih menjadi ruang pertemuan unik yang mampu menyatukan berbagai bangsa dalam satu panggung yang sama. Piala Dunia 2026 bukan sekadar ajang perebutan trofi paling bergengsi, melainkan juga cerminan nyata dari dinamika dunia saat ini, di mana olahraga, diplomasi, keamanan, dan politik global semakin sulit untuk dipisahkan.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar