Alphabet Rombak Divisi AI, Sejumlah Petinggi Google Hengkang

- Kamis, 06 Agustus 2026 | 10:36 WIB
Alphabet Rombak Divisi AI, Sejumlah Petinggi Google Hengkang

Alphabet, perusahaan induk Google, mengumumkan perombakan besar-besaran dalam jajaran kepemimpinan divisi kecerdasan buatan (AI) pada Rabu (5/8). Kepala AI Demis Hassabis melepaskan peran manajerial utamanya, sementara sejumlah pemimpin pengembangan model Gemini, termasuk insinyur senior Jeff Dean, memutuskan hengkang dari perusahaan. Saham Alphabet langsung merespons dengan turun 4 persen.

Perombakan ini terjadi di tengah kekhawatiran bahwa Google mulai tertinggal dari para pesaingnya, Anthropic dan OpenAI, yang masing-masing berhasil merekrut talenta AI unggulan Google pada musim panas tahun ini. Versi utama dari model AI terbaru Gemini hingga kini belum dirilis, meski semula dijadwalkan meluncur pada Juni.

Dalam memo kepada karyawan, Hassabis mengungkapkan bahwa ia akan beralih dari posisi CEO Google DeepMind menjadi Chairman, serta mengemban peran baru sebagai Chief Scientist Alphabet. Ia menegaskan bahwa semakin dekatnya era Artificial General Intelligence (AGI), yakni kondisi ketika AI memiliki kecerdasan setara manusia, menjadi alasan utama perubahan perannya tersebut.

“Dia dan saya telah lama mendiskusikan sebuah peran yang memungkinkan dia mencurahkan seluruh perhatiannya untuk secara aktif membentuk masa depan AGI,” tulis CEO Alphabet Sundar Pichai dalam memo terpisah, dikutip dari Reuters, Kamis (6/8). “Ini adalah pekerjaan yang sangat penting bagi Alphabet dan umat manusia, dan saya tidak dapat membayangkan orang yang lebih tepat selain Demis untuk menjalankannya,” lanjutnya.

Sementara itu, Chief Technology Officer Google DeepMind, Koray Kavukcuoglu, akan mengambil alih tanggung jawab operasional sehari-hari divisi tersebut. Ia akan menyandang jabatan Senior Vice President, bukan CEO unit bisnis, sembari tetap menjalankan perannya sebagai Chief AI Architect Alphabet.

Di sisi lain, empat tokoh AI paling berpengaruh di Google Jeff Dean, Sanjay Ghemawat, Oriol Vinyals, dan Quoc Le memutuskan keluar untuk mendirikan startup bernama Discovery Loop. Startup ini akan berfokus pada penelitian terobosan di bidang pembelajaran mesin, sains, dan teknik, serta dibentuk sebagai public benefit corporation, yaitu perusahaan yang memiliki tujuan sosial selain mengejar keuntungan.

Alphabet tidak menjelaskan penyebab di balik perubahan besar tersebut maupun alasan waktu pengumumannya yang bertepatan. Namun, sejumlah sumber menyebut Hassabis kerap lebih mengutamakan pencapaian ilmiah dibandingkan menghasilkan keuntungan bagi Google. Tiga sumber yang mengetahui persoalan tersebut mengatakan Hassabis bahkan menjadikan perolehan Nobel sebagai salah satu tujuan bisnis DeepMind. Menurut sejumlah orang dalam, ia juga sempat menolak berbagai upaya yang berpotensi meningkatkan pendapatan Alphabet atau memperkuat posisi Google dalam persaingan AI.

Meski demikian, sejumlah rekan Hassabis di Google membantah anggapan bahwa dirinya terlalu fokus pada riset jangka panjang atau mengabaikan kepentingan bisnis perusahaan. Seorang sumber yang mengetahui langsung situasi tersebut mengatakan para petinggi Google Cloud, yang menjadi mesin utama pendapatan AI Alphabet, menyambut positif penunjukan Kavukcuoglu karena dinilai dapat mempercepat komersialisasi teknologi AI perusahaan. Kavukcuoglu memang lebih terlibat dibandingkan Hassabis dalam kolaborasi antara DeepMind dan Google Cloud. Penunjukannya sebagai pemimpin laboratorium AI diharapkan mampu mengarahkan pengembangan Gemini menjadi lebih berorientasi pada produk.

Juru bicara Alphabet kepada Reuters mengatakan Hassabis akan lebih banyak menangani penelitian dan penyusunan strategi terkait dampak sosial AGI serta hanya membawahi sedikit staf secara langsung. Dalam memo internalnya, Hassabis juga menyoroti “kemajuan besar” yang telah dicapai model-model AI Google, termasuk peningkatan terbaru Gemini 4 yang hingga kini belum dirilis. Ia juga mengatakan akan meluangkan lebih banyak waktu untuk Isomorphic Labs, perusahaan penemuan obat berbasis AI yang lahir dari DeepMind dan hingga kini masih dipimpinnya sebagai CEO.

“Saya selalu percaya bahwa aplikasi nomor satu AI adalah meningkatkan kesehatan manusia. Sekarang saatnya AI membuktikan manfaatnya secara nyata bagi dunia, dan cara apa yang lebih baik selain membantu menemukan obat bagi penyakit seperti kanker,” kata Hassabis.

Sejarah Panjang Dua Tokoh Sentral

Selama bertahun-tahun, Jeff Dean dan Demis Hassabis dikenal sebagai dua tokoh paling berpengaruh dalam pengembangan AI di Google, jauh sebelum teknologi tersebut menjadi pusat inovasi global. Hassabis mendirikan DeepMind pada 2010 dan tetap memimpin laboratorium tersebut dari London setelah menjualnya kepada Google senilai sekitar USD 650 juta pada 2014. Sementara itu, Dean mendirikan Google Brain pada 2011, unit riset AI yang berbasis di Amerika Serikat dan berkembang terpisah dari tim Hassabis. Saat itu, Dean telah menjadi sosok yang sangat dihormati di Google berkat kolaborasinya bersama Ghemawat dalam membangun berbagai proyek infrastruktur utama yang hingga kini masih menjadi tulang punggung perusahaan.

Pada 2023, setelah peluncuran ChatGPT milik OpenAI membuat Google tertinggal, Sundar Pichai mengumumkan penggabungan DeepMind dan Google Brain menjadi organisasi baru bernama Google DeepMind. Hassabis ditunjuk sebagai CEO, sedangkan Dean menjadi Chief Scientist. Hingga baru-baru ini, Dean, Oriol Vinyals, dan Noam Shazeer memimpin bersama pengembangan Gemini. Di bawah kepemimpinan mereka, Google meluncurkan Gemini 3 pada November tahun lalu, yang secara luas dinilai berhasil memperkecil kesenjangan dengan model AI milik Anthropic dan OpenAI.

Namun, kemajuan pesat para pesaing tersebut, ditambah meningkatnya popularitas model AI open source murah dari China, membuat posisi Google kembali tertekan. Pada konferensi pengembang tahunan Google pada Mei lalu, Sundar Pichai dan jajaran pimpinan perusahaan lebih banyak menonjolkan keunggulan biaya Gemini dibandingkan kemampuan teknologinya sebagai model AI paling mutakhir.

Noam Shazeer sendiri bergabung dengan OpenAI pada Juni lalu, kurang dari dua tahun setelah Google menggelontorkan miliaran dolar untuk merekrutnya beserta tim penelitinya dari startup yang dipimpinnya. Pada pekan yang sama, ilmuwan riset senior John Jumper, yang meraih Hadiah Nobel bersama Hassabis pada 2024, juga mengumumkan kepindahannya ke Anthropic. Sementara itu, Vinyals, Quoc Le, dan mantan Chief Scientist OpenAI Ilya Sutskever merupakan penulis bersama makalah penelitian tahun 2014 yang menjadi fondasi penting perkembangan AI modern. Penelitian tersebut memperkenalkan konsep bahwa memperbesar skala data untuk pre-training sistem AI dapat menghasilkan lompatan besar dalam kemampuan model.

“Google memang memiliki cadangan talenta yang sangat besar, tetapi kehilangan empat sosok ini akan meninggalkan dampak yang cukup lama. Mengembalikan inovasi dan eksekusi ke jalurnya bukan perkara mudah, dan kehilangan para kontributor utama tentu tidak akan membantu,” ujar Kepala Strategi Pasar Zacks Investment Management, Brian Mulberry.

Discovery Loop diketahui telah memperoleh investasi dari Google serta menjalin kemitraan dengan divisi Google Cloud untuk menyediakan kapasitas komputasi bagi startup tersebut.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags