Dari geladak kapal induk Charles de Gaulle yang berlabuh di Mediterania, Presiden Prancis Emmanuel Macron menyuarakan skeptisismenya. Menurutnya, bombardir saja takkan cukup untuk mengubah peta politik Iran. "Anda tidak bisa mencapai perubahan rezim yang besar hanya lewat serangan udara," tegasnya pada Senin (9/3) lalu.
Pernyataan itu jelas merujuk pada serangan gabungan AS-Israel akhir Februari yang memicu ketegangan baru di Timur Tengah. Macron memprediksi fase intens konflik ini masih akan berlanjut. Bisa beberapa hari, atau mungkin malah beberapa minggu ke depan.
Di sisi lain, Prancis dan sekutunya tak hanya berpangku tangan. Mereka sedang menyiapkan sebuah misi khusus. Tujuannya defensif: membuka kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang vital bagi perdagangan global.
"Ini penting banget untuk perdagangan internasional," ujar Macron dalam kesempatan terpisah di Siprus.
Dia menambahkan, misi itu juga krusial agar pasokan minyak dan gas bisa kembali mengalir lancar dari kawasan itu.
Rencananya, misi "murni defensif" ini akan melibatkan sejumlah negara, baik dari Eropa maupun dari luar Eropa. Macron berbicara soal ini bersama Presiden Siprus Nikos Christodoulides dan PM Yunani Kyriakos Mitsotakis. Mereka ingin selat itu dibuka kembali secara bertahap, nanti setelah puncak konflik mereda.
Kunjungan Macron ke kapal induk Prancis itu sendiri punya simbol kuat. Charles de Gaulle memang sengaja dikerahkan ke Mediterania menyusul eskalasi yang dipicu serangan 28 Februari lalu. Sebuah pernyataan tanpa kata-kata tentang kesiapan dan pengamatan dari dekat.
Artikel Terkait
AS Luncurkan Serangan Balasan ke Iran sebagai Respons Penembakan Helikopter Apache di Selat Hormuz
Herdman Sesali Penyelesaian Akhir Kurang Tajam meski Timnas Indonesia Kalahkan Mozambik 1-0
Ribuan Guru Blokir Akses ke Stadion Azteca Jelang Pembukaan Piala Dunia 2026
Presiden Miliki Hak Prerogatif Perpanjang Usia Pensiun Kapolri, Wamenkum Tegaskan