Iran Jajaki Jalur Darat Alternatif untuk Selamatkan Ribuan Kontainer yang Terdampar di Pakistan Akibat Blokade AS di Selat Hormuz

- Jumat, 24 April 2026 | 19:45 WIB
Iran Jajaki Jalur Darat Alternatif untuk Selamatkan Ribuan Kontainer yang Terdampar di Pakistan Akibat Blokade AS di Selat Hormuz

TVRINews, Karachi

Tiga ribu kontainer tertahan di Pakistan saat ketegangan Selat Hormuz memuncak.

Blokade angkatan laut Amerika Serikat makin hari makin mencekik. Teheran mulai gelisah. Mereka sekarang menjajaki rute darat alternatif semacam jalan pintas darurat untuk menyelamatkan ribuan kontainer kargo yang terdampar di Pelabuhan Karachi, Pakistan.

Dokumen internal yang bocor ke Al Jazeera menunjukkan ada pembicaraan intensif. Para pemimpin industri Pakistan duduk satu meja dengan pejabat pemerintah Iran. Semua ini terjadi karena Selat Hormuz, jalur logistik yang selama ini jadi urat nadi, tiba-tiba berubah jadi titik panas konfrontasi ekonomi global.

Chokehold Ekonomi dan Tekanan Washington

Disrupsi ini bukan kebetulan. Ini bagian dari strategi tekanan sistematis era Trump. Para analis bilang, langkah ini lebih dari sekadar menghentikan perdagangan. Ini soal kendali penuh atas napas ekonomi Iran.

"Iran sedang runtuh secara finansial," tulis Trump di Truth Social. "Mereka ingin Selat Hormuz segera dibuka. Mereka sangat membutuhkan uang tunai!"

Sejak 13 April, blokade angkatan laut AS praktis menghentikan semua pelayaran baik yang menuju maupun meninggalkan pelabuhan Iran. Dampaknya? Ekspor energi hancur. Akses Iran ke barang impor esensial juga terputus.

Javed Hassan, penasihat di Centre for Research and Security Studies (CRSS) Islamabad, punya pandangan menarik. Menurut dia, kendali ekonomi ini bisa lebih mematikan daripada kekuatan militer langsung.

"Pendapatan ekspor, yang merupakan jalur fiskal negara, akan terkontraksi tajam. Meskipun Iran sudah meningkatkan kapasitas pertanian domestik, ketahanan pangan mereka masih bergantung sebagian pada impor dan devisa," kata Hassan kepada Al Jazeera.

Navigasi di Jalur yang 'Tercekik'

Meski Selat Hormuz tidak ditutup secara resmi, Iran punya sistem akses selektif. Kapal dari negara mitra seperti Pakistan dan Irak masih boleh lewat. Tapi kapal yang terafiliasi dengan AS atau Israel? Ditolak mentah-mentah.

Menurut laporan Lloyd's List, beberapa kapal bahkan harus bayar biaya transit sampai US$2 juta sekitar Rp31 miliar dalam bentuk Yuan atau mata uang kripto. Semua demi menghindari sistem pelacakan Dollar AS.

Hamidreza Haji-Babaei, Wakil Ketua Parlemen Iran, mengonfirmasi bahwa pendapatan dari pungutan kapal di Hormuz sudah mulai masuk ke Bank Sentral Iran.

Tapi untuk kargo non-migas, risikonya terlalu besar. Mohammed Rajpar, Ketua Asosiasi Agen Kapal Pakistan, mencatat lonjakan premi asuransi risiko perang. Dari 0,12% naik jadi 5% dari nilai kapal.

"Untuk kapal pengangkut minyak mentah senilai US$100 juta, itu berarti premi sebesar US$5 juta untuk satu kali transit," ujar Rajpar. Bagi kapal kontainer dengan margin tipis, angka ini jelas tidak masuk akal secara bisnis.

Ketahanan dalam Krisis

Di tengah kebuntuan maritim, rencana jalur darat sepanjang 900 kilometer muncul sebagai opsi paling rasional. Truk-truk Pakistan akan mengangkut kargo hingga perbatasan, lalu dipindahkan ke transportasi Iran.

Mantan Duta Besar Pakistan, Jamil Ahmed Khan, memperingatkan bahwa ketergantungan Iran pada impor bahan bakar olahan dan biji-bijian membuat mereka sangat rentan. Inflasi bisa melonjak. Gejolak publik bisa pecah kapan saja jika blokade ini bertahan lama.

Namun begitu, Javed Hassan mengingatkan agar dunia tidak meremehkan "arsitektur ketahanan" Iran. Selama puluhan tahun di bawah sanksi, mereka sudah membangun sistem bertahan hidup yang cukup tangguh.

Iran diperkirakan memiliki cadangan 170 juta barel minyak di kapal tanker yang sudah berada di laut lepas. Siap menopang pendapatan untuk beberapa bulan ke depan.

"Dalam konflik seperti ini, pihak yang bertahan paling lama adalah pemenangnya," pungkas Hassan, mengutip filosofi ketahanan Ho Chi Minh. "Logika itu yang kini digunakan Teheran."


Editor: Redaksi TVRINews

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar