BRIN Bikin Sepatu Karet Pesanan Prabowo, Warganet: Dulu Bisa Bikin Pesawat

- Sabtu, 08 Agustus 2026 | 15:40 WIB
BRIN Bikin Sepatu Karet Pesanan Prabowo, Warganet: Dulu Bisa Bikin Pesawat

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkenalkan sepatu berbahan karet yang dipesan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto. Kepala BRIN, Arif Satria, mengenakan sepatu tersebut saat menghadiri undangan Prabowo di Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (6/8).

Arif mengungkapkan bahwa sepatu itu merupakan produk lokal buatan BRIN Serpong. "Ini sepatu BRIN produk lokal, ini Pak Presiden juga pesen, 'BRIN tolong dong bikin yang bisa menyelesaikan masalah sepatu'," ujarnya kepada wartawan. Sepatu yang seluruhnya terbuat dari karet ini dibanderol di bawah Rp80 ribu. Saat ini BRIN masih mencari mitra industri untuk memproduksinya secara massal.

Namun, langkah BRIN ini menuai kritik dari warganet. Seorang pengguna akun X dengan nama Ahmad Arif menyindir, "Kasian. Dulu di era Habibie, bikin pesawat. BPPT sudah bikin pesawat nirawak dan banyak temuan lain. Eijkman pernah melahirkan banyak riset ilmiah fundamental, peta keanekaragaman genetik, dan standar teknologi biomolekuler kelas dunia. Kedua lembaga itu sekarang dah di lebur di BRIN bersama banyak lembaga riset lain. Produk yg kini dibanggakan ke Presiden: sepatu karet!"

Sindiran serupa juga disampaikan akun @rebukanrain. "Kasian emang. Dulu era Habibie bisa bikin pesawat, BPPT udah nyentuh drone, Eijkman kelas dunia. Sekarang lembaga-lembaga itu dilumerin ke BRIN, terus yang dibangga-banggain ke Presiden sepatu karet harga di bawah 80 ribu. Bukan soal sepatunya jelek atau enggak, tapi prioritas…"

Kritik tersebut mengingatkan pada kejayaan riset Indonesia di masa lalu. Pada era kepemimpinan B.J. Habibie, Indonesia pernah memproduksi pesawat N250 Gatotkaca. Pesawat ini dirancang oleh Habibie saat menjabat sebagai Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) sekaligus Direktur Utama PT Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN, sekarang PT Dirgantara Indonesia).

N250 berhasil melakukan penerbangan perdana pada 10 Agustus 1995 di Bandara Husein Sastranegara, Bandung. Tanggal tersebut kemudian diperingati sebagai Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas). Pesawat ini menjadi satu-satunya pesawat turboprop di dunia yang menggunakan teknologi Fly-by-Wire (FBW), sistem kendali elektronik digital yang saat itu hanya dimiliki pesawat jet besar. Dirancang untuk mengangkut 50 hingga 70 penumpang, N250 diharapkan mampu menghubungkan wilayah kepulauan Indonesia.

Sayangnya, proyek ambisius ini terhenti akibat krisis moneter Asia 1998. Salah satu syarat bantuan dana dari International Monetary Fund (IMF) adalah penghentian kucuran dana negara untuk proyek strategis IPTN.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags