Begitu negara mulai membagi-bagi tambang ke ormas, koperasi, atau yayasan, saat itulah negara sedang menanamkan kepentingan ekonomi ke dalam tubuh organisasi sosial. Dan kalau kepentingan ekonomi sudah masuk, jangan harap organisasi itu bisa bebas bersuara lagi.
Sekarang, kita tarik lagi ke kasus Pandji.
Begitu ada orang yang bicara tentang pencitraan, relasi elite, dan cuci citra, yang ribut bukan pejabat atau istana. Yang ribut malah dibelokkan ke isu ormas. Ini bikin gue mau ketawa, tapi rasa-rasanya pahit. Analoginya, seperti ada orang yang berteriak maling di kampung, tapi yang marah malah tukang bakso. Nggak nyambung sama sekali.
Tapi ini jadi masuk akal kalau kita ingat satu hal: negara sudah keburu menyebar kepentingan ke mana-mana. Sekarang semua pihak jadi sensitif. Karena semua merasa punya beban untuk dijaga.
Kita balik lagi ke Raffi Ahmad. Dia bukan masalah pribadi. Dia adalah simbol. Simbol selebriti yang masuk ke orbit kekuasaan. Simbol negara yang memakai popularitas untuk menutupi politik yang sebenarnya. Dia bukan satu-satunya, tapi yang paling terlihat.
Dan Gibran? Dia adalah produk paling sempurna dari politik citra ini. Dari awal, dia tidak dibangun melalui debat gagasan, tapi lewat media, eksposur, framing, dan mesin yang bekerja rapi.
Sekarang, coba kita tanya jujur. Kalau sistem ini sehat, buat apa pakai selebriti? Kalau kebijakan ini benar, mengapa perlu influencer? Kalau pemimpin ini dipercaya, untuk apa buzzer?
Jawabannya pahit: karena yang dijual bukan kinerja, melainkan persepsi. Dan negara yang hidup dari persepsi itu alergi berat dengan kritik. Makanya, komedian pun bisa dianggap musuh.
Ini bagian yang berbahaya. Kritik dari LSM dibilang dibayar asing. Dari akademisi dibilang terlalu teoritis. Dari aktivis dibilang cari panggung. Sekarang, giliran komedian dilaporkan. Apa artinya ini? Artinya, kulit negara ini semakin tipis.
Sekarang soal NU dan Muhammadiyah. Gue mau ngomong lurus. NU dan Muhammadiyah itu terlalu besar, terlalu tua, dan terlalu berjasa untuk diperkecil jadi sekadar satu laporan polisi. Isinya jutaan orang dengan pandangan yang beragam.
Kalau ada beberapa orang melaporkan, itu bukan suara NU, bukan suara Muhammadiyah. Itu suara individu.
Tapi kenapa nama besarnya yang dipakai? Ya karena lebih seram. Lebih bikin ribut. Dan lebih mudah memecah perhatian publik. Sekali lagi, ini trik lama. Bikin rakyat ribut soal identitas, supaya lupa bertanya tentang kekuasaan.
Padahal pertanyaan utamanya cuma satu: kenapa negara sekarang lebih takut dengan omongan komedian daripada dengan korupsi? Kenapa metafora lebih bikin panik daripada data? Kenapa candaan lebih dikejar daripada kebocoran uang rakyat?
Dan inilah bagian yang paling jujur dan paling kotor. Izin tambang itu bukan cuma soal ekonomi. Itu alat kontrol politik. Siapa yang diberi, dia akan berpikir seribu kali untuk membuat keributan. Siapa yang kebagian, dia akan ragu untuk mengkritik.
Ini yang ditanam Jokowi di akhir jabatannya. Sebuah negara yang mengikat semua orang dengan kepentingan. Begitu semua punya bagian, semua jadi jinak.
Di negara seperti ini, orang seperti Pandji itu dianggap berbahaya. Bukan karena dia jahat, tapi karena dia bicara dengan bahasa yang dimengerti rakyat. Bukan bahasa seminar atau sidang pengadilan, melainkan bahasa warung kopi. Dan kekuasaan paling takut dengan satu hal: dibahas dengan bahasa yang sederhana. Karena begitu rakyat paham, selesai sudah.
Makanya reaksinya selalu berlebihan. Selalu dibikin seolah-olah ini soal kesopanan, etika, atau perasaan kelompok. Padahal, intinya cuma satu: kekuasaan yang tidak mau dikaca-kaca.
Gue tutup dengan logika yang paling telanjang. Kalau negara ini sehat, Pandji cuma jadi bahan ketawa. Kalau negara ini kuat, kritik adalah vitamin. Kalau negara ini bersih, sindiran tidak akan bikin gatal.
Tapi kalau negara ini panikan, baperan, dan alergi dengan metafora, itu tandanya bukan rakyatnya yang sensitif. Tapi kekuasaannya yang keropos.
Dan negara yang kekuasaannya keropos selalu punya ciri yang sama: lebih sibuk mengurus citra daripada isi. Lebih takut dengan omongan daripada kenyataan. Lebih mengejar yang menyindir daripada yang mencuri.
Dan itu, mau dibungkus dengan nama siapa pun, mau dibawa-bawa ormas apa pun, tetap satu kalimat: ini bukan negara yang percaya diri. Ini negara yang sedang ketakutan dengan bayangannya sendiri.
Artikel Terkait
Komnas HAM Tegaskan Kritik Kebijakan Pemerintah Adalah Hak yang Harus Dijamin
Laporan Ungkap Aliran Dana Terduga Teroris Lewat Binance, Pegawai Penyelidik Malah Diberhentikan
Tren Bukber Ramadan di Makassar Beralih ke Restoran dengan Konsep Estetik
Sidang Praperadilan Yaqut Ditunda, KPK Absen di Persidangan Perdana