Swasembada Pangan 2025: Tonggak Kedaulatan di Tengah Perang Global Pangan dan Energi

- Jumat, 09 Januari 2026 | 09:00 WIB
Swasembada Pangan 2025: Tonggak Kedaulatan di Tengah Perang Global Pangan dan Energi

Sejarah dunia berkali-kali membuktikan, siapa yang menguasai energi, dialah yang punya pengaruh. Negara dengan akses dan kontrol atas sumber energi minyak, gas, batu bara, atau teknologi energi baru punya posisi tawar tinggi di panggung internasional. Sebaliknya, negara pengimpor energi sangat rentan terhadap tekanan ekonomi dan politik.

Sekarang, di era transisi energi, dunia menghadapi paradoks. Kebutuhan energi terus melonjak, sementara sumber energi fosil makin terbatas dan terbukti merusak lingkungan. Perubahan iklim memaksa kita beralih ke energi bersih, tapi proses transisi ini penuh dengan rintangan teknologi, ekonomi, dan politik yang tidak sederhana.

Keterkaitan Erat antara Pangan dan Energi

Pangan dan energi itu ibarat dua sisi mata uang. Saling terkait dalam hubungan yang kompleks. Produksi pangan modern sangat bergantung pada energi, mulai dari pengolahan lahan, irigasi, produksi pupuk, penggunaan mesin, sampai penyimpanan dan distribusi hasil panen.

Di sisi lain, sektor pangan juga bisa menjadi sumber energi. Melalui bioenergi, biomassa, dan biofuel. Limbah pertanian dan perkebunan berpotensi diolah menjadi energi terbarukan, menciptakan sistem yang lebih sirkular dan berkelanjutan.

Intinya, krisis energi akan langsung berdampak pada harga pangan. Sebaliknya, krisis pangan bisa memicu ketimpangan sosial yang akhirnya mengganggu stabilitas sektor energi. Makanya, kebijakan untuk kedua sektor ini harus dirancang secara terintegrasi, jangan jalan sendiri-sendiri.

Indonesia: Potensi Besar, Tantangan Nyata

Indonesia sebenarnya punya modal besar untuk mandiri. Lahan subur, keanekaragaman hayati tinggi, ditambah potensi energi terbarukan yang melimpah matahari, air, panas bumi, angin, biomassa. Dengan semua itu, seharusnya kita tidak terjebak dalam ketergantungan impor.

Namun, tantangan strukturalnya nyata. Mulai dari kebijakan yang masih terkotak-kotak antar sektor, ketimpangan akses teknologi, infrastruktur yang belum merata, ancaman perubahan iklim, sampai alih fungsi lahan produktif yang tak terkendali.

Tanpa perencanaan jangka panjang dan konsistensi kebijakan, keunggulan alam yang kita punya bisa berubah jadi beban. Pembangunan pangan dan energi harus benar-benar ditempatkan sebagai agenda strategis nasional, yang dijaga lintas pemerintahan dan lintas generasi.

Peran Teknologi, Inovasi, dan SDM

Masa depan kedua sektor ini sangat ditentukan oleh penguasaan teknologi dan kualitas sumber daya manusia. Pertanian presisi, digitalisasi rantai pasok, varietas unggul tahan iklim, serta energi terbarukan berbasis teknologi tinggi adalah keniscayaan yang tak bisa dielakkan.

Di sinilah peran krusial perguruan tinggi, lembaga riset, dan komunitas akademik. Kolaborasi yang erat antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat harus diperkuat untuk menciptakan ekosistem pangan dan energi yang tangguh.

Indonesia tidak boleh puas hanya menjadi pengguna teknologi. Kita harus bercita-cita menjadi produsen pengetahuan dan inovasi di bidang pangan dan energi, khususnya yang relevan dengan kondisi tropis dan negara berkembang.

Dimensi Etika dan Keadilan

Pangan dan energi bukan cuma komoditas ekonomi belaka. Keduanya punya dimensi etika dan keadilan yang dalam. Akses terhadap pangan dan energi yang cukup adalah hak dasar setiap manusia. Ketimpangan akses hanya akan melahirkan ketidakadilan sosial, kemiskinan struktural, dan pada akhirnya, konflik.

Kebijakan yang dibuat harus berpihak pada rakyat, terutama kelompok rentan: petani kecil, nelayan, masyarakat adat, dan mereka yang tinggal di daerah tertinggal. Pembangunan tidak boleh mengorbankan keberlanjutan lingkungan dan hak generasi mendatang untuk hidup layak.

Pangan dan Energi sebagai Arah Peradaban

Pada akhirnya, pangan dan energi adalah lebih dari sekadar sektor pembangunan. Mereka adalah penentu arah peradaban. Di tengah dunia yang makin tidak pasti, negara yang mampu mengamankan pangan dan energi secara berkelanjutan akan memiliki daya tahan, kemandirian, dan martabat.

Bagi Indonesia, capaian swasembada pangan 2025 harus jadi pijakan untuk melangkah lebih jauh. Membangun sistem pangan dan energi yang terintegrasi, berkeadilan, berbasis ilmu pengetahuan, dan ramah lingkungan. Inilah jalan menuju Indonesia yang berdaulat, mandiri, dan maju bukan hanya untuk kita hari ini, tapi untuk anak cucu kita nanti. Dan ini bukan hanya urusan Indonesia. Seluruh dunia pun sedang bersiap dengan strateginya masing-masing. Tabik.

") Aendra MEDITA, mantan Pemimpin Redaksi Energyworld.co.id


Halaman:

Komentar