Laporan terbaru dari Satgas rehabilitasi pascabencana Sumatera menyebutkan, ada puluhan desa yang hilang diterjang bencana. Angkanya cukup mencengangkan: 25 desa sejauh ini dinyatakan lenyap akibat banjir dan tanah longsor yang melanda wilayah itu.
Rinciannya, 17 desa di Provinsi Aceh dan 8 desa di Sumatera Utara. Namun, angka ini masih bisa berubah.
"Aceh menyampaikan juga ada kampung yang lain yang hilang. Tadinya 13, menjadi 17. Ini akan kita cross check lagi," kata Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, yang juga memimpin satgas tersebut, dalam keterangannya di Kantor Kemendagri, Kamis lalu.
Menurutnya, tim masih perlu memastikan apakah desa-desa itu benar-benar hilang tertimbun atau sekadar terisolasi parah. "Di Sumut masih tetap sama, 8. Jadi ada 25 kira-kira jumlah desa yang hilang per hari ini," tambah Tito.
Di sisi lain, upaya pemulihan terus digenjot. Fokusnya kini pada rehabilitasi dan rekonstruksi, termasuk pembangunan hunian tetap atau huntap untuk para korban.
Nah, bagi warga yang rumahnya rusak berat dan masuk kategori penerima bantuan, ada dua pilihan. Bisa menempati huntap yang disediakan pemerintah, atau memilih membangun sendiri di lokasi lain yang dianggap lebih aman.
"Bisa saja yang bersangkutan tidak ingin relokasi tapi dia pindah ke tempat yang dia pilih sendiri," jelas Tito.
Kalau pilih opsi kedua, pemerintah akan memberikan bantuan tunai senilai anggaran pembangunan huntap. "Kalau yang dipilih sendiri, otomatis dia akan diberikan biaya indeksnya kalau membangun sendiri ya Rp 60 juta diberikan," ujarnya.
Ada poin penting yang ditekankan Tito. Lokasi desa-desa yang hilang itu secara geologis memang rawan bencana. Karena itu, pemerintah sangat tidak menyarankan warga untuk kembali membangun di bekas lokasi yang sudah hancur itu.
Risikonya jelas. "Kan hilangnya itu bisa saja terjadi longsor atau terjadi banjir bandang ya, kemudian sudah kering. Tapi kalau kembali ke situ lagi, mungkin kalau ada kejadian lagi, mudah-mudahan nggak, bisa rawan lagi," pungkasnya. Intinya, keamanan jangka panjang jadi prioritas utama.
Artikel Terkait
BMKG Prediksi Cuaca Cerah Berawan di Makassar Sepanjang 18 April 2026
Diskominfo Tebing Tinggi Digeledah Polda Sumut Usai OTT Pejabat
Masyarakat Sipil Temui KWI, Soroti Krisis Moral dan Hukum dalam Tata Kelola Negara
Unpad Nonaktifkan Guru Besar Diduga Lakukan Kekerasan Seksual terhadap Mahasiswi Asing