Nah, bagi warga yang rumahnya rusak berat dan masuk kategori penerima bantuan, ada dua pilihan. Bisa menempati huntap yang disediakan pemerintah, atau memilih membangun sendiri di lokasi lain yang dianggap lebih aman.
"Bisa saja yang bersangkutan tidak ingin relokasi tapi dia pindah ke tempat yang dia pilih sendiri," jelas Tito.
Kalau pilih opsi kedua, pemerintah akan memberikan bantuan tunai senilai anggaran pembangunan huntap. "Kalau yang dipilih sendiri, otomatis dia akan diberikan biaya indeksnya kalau membangun sendiri ya Rp 60 juta diberikan," ujarnya.
Ada poin penting yang ditekankan Tito. Lokasi desa-desa yang hilang itu secara geologis memang rawan bencana. Karena itu, pemerintah sangat tidak menyarankan warga untuk kembali membangun di bekas lokasi yang sudah hancur itu.
Risikonya jelas. "Kan hilangnya itu bisa saja terjadi longsor atau terjadi banjir bandang ya, kemudian sudah kering. Tapi kalau kembali ke situ lagi, mungkin kalau ada kejadian lagi, mudah-mudahan nggak, bisa rawan lagi," pungkasnya. Intinya, keamanan jangka panjang jadi prioritas utama.
Artikel Terkait
KPK Tetapkan Gus Yaqut Tersangka Dugaan Korupsi Kuota Haji
Kuasa Hukum Tantang Eggi Sudjana dan Kawan-Kawan Bersaksi di Sidang Ijazah Jokowi
Saat Pejabat Berani Buka Diri, Koruptor Cemas dan Tersipu
Eropa Berang, Hubungan Transatlantik Memasuki Zaman Es