Data Tenaga Kerja AS Mengejutkan, Wall Street Malah Meroket

- Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:48 WIB
Data Tenaga Kerja AS Mengejutkan, Wall Street Malah Meroket

Wall Street menutup pekan ini dengan catatan hijau. Perdagangan Jumat (9/1) berakhir menguat, didorong oleh laporan ketenagakerjaan AS yang ternyata lebih lemah dari yang diprediksi pasar. Ya, data itu justru jadi angin segar bagi investor.

Indeks Dow Jones merangkak naik 252,84 poin, atau sekitar 0,51 persen, menuju level 49.518,95. Sementara itu, S&P 500 dan Nasdaq Composite tampil lebih perkasa lagi, masing-masing menguat 0,77 persen ke 6.974,69 dan melonjak 0,92 persen ke 23.696,40. Data ini dikutip dari Reuters pada Sabtu (10/1).

Jika dilihat per pekan, ketiga indeks utama itu bersiap mencatatkan kenaikan. Ini adalah pekan perdagangan penuh pertama di tahun 2026, dan Dow Jones sedang menuju kenaikan mingguan terbesarnya sejak akhir November lalu. Suasana hati pasar terlihat cukup optimis.

Di sisi lain, penguatan itu tak lepas dari andil saham-saham teknologi, terutama emiten chip. Saham Intel, misalnya, mendapat suntikan semangat setelah ada kabar tentang pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan CEO-nya, Lip-Bu Tan. Trump menyebut pertemuan itu sebagai "a great meeting". Sentimen hangat ini bahkan sempat mendorong S&P 500 menyentuh level tertinggi dalam sehari.

Lantas, apa yang sebenarnya terjadi dengan data tenaga kerja itu? Menurut Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS), ekonomi AS hanya menambahkan 50.000 pekerjaan non-pertanian pada Desember. Angka ini memang masih di atas revisi bulan November, tapi jelas-jelas meleset dari ekspektasi analis yang mengharapkan 60.000 lapangan kerja baru. Tingkat pengangguran sendiri turun menjadi 4,4 persen, sesuai perkiraan.

Nah, di sinilah paradoksnya. Data yang secara teknis 'lemah' justru ditanggapi positif. Banyak pelaku pasar berpendapat, perlambatan penciptaan lapangan kerja ini memberi ruang bagi The Fed untuk tidak terburu-buru. Bank sentral AS bisa bersikap lebih hati-hati dan tidak perlu memangkas suku bunga secara agresif.

"Jumlah data penggajian sedikit lebih rendah dibandingkan konsensus, tetapi tetap merupakan angka yang cukup kuat,"

Tim Ghriskey, seorang senior portfolio strategist di Ingalls & Snyder, New York, memberikan komentarnya seperti itu.

Efek dari data itu langsung terasa di pasar uang. Probabilitas pemangkasan suku bunga The Fed pada rapat 27-28 Januari anjlok jadi hanya 4,8 persen. Sebelumnya, peluangnya masih 11,6 persen. Kalau mau menunggu suku bunga turin, pasar memperkirakan kita harus bersabar setidaknya sampai April.

Pergerakan juga terlihat di pasar obligasi. Imbal hasil Treasury AS untuk tenor dua tahun yang sangat sensitif dengan isu suku bunga naik 5 basis poin menjadi 3,538 persen. Namun begitu, imbal hasil obligasi 10 tahun justru turun tipis ke 4,171 persen.

Bagaimana dengan dolar? Mata uang AS itu tetap menguat meski sempat kehilangan sedikit tenaga setelah rilis data. Indeks dolar akhirnya ditutup naik 0,26 persen, bertengger di level 99,13. Pekan yang cukup bergejolak, tapi berakhir dengan senyuman bagi para bull.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar