Harga tembaga di pasar global melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari dua pekan pada Selasa (2/6/2026), didorong oleh ketidakpastian kebijakan tarif impor Amerika Serikat serta semakin mengetatnya pasokan dari luar negeri. Lonjakan ini terjadi di tengah pelaku pasar yang juga mencermati dinamika upaya perdamaian di Timur Tengah.
Kontrak tembaga tiga bulan acuan di London Metal Exchange (LME) tercatat naik 0,99 persen menjadi 13.968,50 dolar AS per ton pada pukul 14.05 WIB. Sebelumnya, harga sempat menyentuh 13.978 dolar AS per ton, level yang belum pernah dicapai sejak 14 Mei. Sementara itu, kontrak tembaga paling aktif di Shanghai Futures Exchange (SHFE) menguat 1,86 persen dan ditutup pada 106.620 yuan per ton, setelah menyentuh puncak harian di 106.720 yuan per ton tertinggi sejak 15 Mei.
Gedung Putih pada Senin merevisi tarif untuk sejumlah impor tembaga, aluminium, dan besi, serta memangkas bea masuk atas beberapa peralatan pertanian dan industri. Namun, kebijakan tersebut belum menjawab pertanyaan utama mengenai tarif tembaga yang selama ini memicu dislokasi pasar antarwilayah.
“Ketidakpastian tarif kemungkinan tetap mendukung sentimen pasar,” ujar analis ING Economics dalam laporan yang dikutip Reuters.
Premi harga tembaga COMEX terhadap LME kembali melebar, membuat pengiriman logam ke gudang-gudang di Amerika Serikat masih menarik secara ekonomi. Di sisi lain, diskon harga tembaga tunai LME terhadap kontrak tiga bulan juga menyempit, mengindikasikan pasokan jangka pendek yang semakin ketat.
Perhatian pasar juga tertuju ke Timur Tengah setelah Lebanon mengumumkan gencatan senjata parsial antara Hezbollah dan Israel. Meskipun demikian, pertempuran masih berlanjut di wilayah selatan Lebanon. Meredanya ketegangan secara terbatas tersebut belum menyelesaikan konflik yang lebih luas antara AS, Israel, dan Iran. Media pemerintah Iran melaporkan bahwa Teheran menghentikan perundingan damai tidak langsung dengan Washington, sementara seorang komandan senior Iran mengancam akan mengganggu lalu lintas pelayaran di Selat Bab el-Mandeb.
Konflik tersebut menjaga risiko energi tetap tinggi bagi pasar logam. Aluminium dinilai lebih rentan karena kawasan Teluk menyumbang sekitar sembilan persen dari produksi global. Harga aluminium LME naik 1,63 persen menjadi 3.776,50 dolar AS per ton setelah sempat menyentuh 3.787,50 dolar AS per ton, level tertinggi dalam lebih dari empat tahun. Di SHFE, harga aluminium menguat 2,10 persen dan ditutup pada 24.825 yuan per ton.
Timah juga mencatat reli kuat. Harga timah di London naik 3,25 persen, sedangkan kontrak serupa di Shanghai melonjak 5,19 persen. Untuk logam lainnya di LME, seng naik 1,08 persen, timbal bertambah 0,77 persen, dan nikel menguat 0,54 persen. Di SHFE, seng naik 1,09 persen, timbal bertambah 0,18 persen, dan nikel menguat 1,14 persen.
Artikel Terkait
PACK Pastikan Regulasi Ekspor Baru Tak Ganggu Kinerja Perusahaan
IHSG Ditutup Menguat 1,49 Persen ke Level 6.218,86 pada Sesi Pertama Perdagangan
45 Emiten Jadwalkan Pembagian Dividen pada Juni 2026, INTP Tertinggi Rp468 per Saham
CTBN Bagikan Dividen Rp372,17 Miliar untuk Tahun Buku 2025