Sikap Lantang yang Membuat Koruptor Malu dan Takut
Di tengah negeri yang sudah terlalu akrab dengan skandal dan manipulasi, keberanian sejati adalah barang langka. Bukan jenis keberanian yang cuma berani di depan kamera, lho. Tapi keberanian yang siap berdiri di hadapan risiko siap diperiksa, siap diuji, dan berani bilang, “Cek saja semua, dari rumah sampai rekening.”
Sikap seperti itu bukan cuma keren. Rasanya mantap. Seperti tamparan. Ia menyentil nurani yang sudah lama tertidur lelap. Dan yang utama, ia bikin para koruptor yang biasa main di lorong gelap merasa sangat tidak nyaman. Malu, bahkan ketakutan.
Korupsi itu sebenarnya hidup dari rasa aman yang palsu. Dari keyakinan bahwa semua bisa diatur, semua bisa ditutup-tutupi. Nah, dalam ekosistem semacam ini, pejabat yang lantang dan terbuka adalah sebuah anomali. Dan setiap anomali adalah ancaman serius bagi mereka.
Ancaman Namanya Cahaya
Ketika seseorang dengan posisi penting bersedia diperiksa secara terbuka, satu pilar utama korupsi langsung runtuh: ketertutupan. Koruptor sejatinya takut pada cahaya, bukan cuma pada hukum. Mereka gentar pada transparansi. Mereka ciut pada contoh nyata.
Ya, satu contoh nyata jauh lebih berbahaya ketimbang ribuan slogan antikorupsi yang digaungkan.
Di sisi lain, kita harus bedakan antara lantang dan berisik. Berisik itu cari perhatian, sementara lantang menyampaikan posisi dengan jelas. Sikap lantang yang sebenarnya tidak perlu ledakan emosi atau drama. Ia tenang, jelas, dan konsisten. Ketegasan macam ini bikin lawan mikir panjang. Mereka paham, orang yang tenang saat diuji biasanya sudah siap dengan fakta. Orang yang berani buka diri, biasanya tak punya banyak yang perlu disembunyikan.
Ini jenis keberanian yang bikin koruptor resah. Karena ia tak bisa dibeli, tak bisa dibungkam, dan sulit dipatahkan.
Membongkar Budaya yang Busuk
Korupsi jarang berdiri sendiri. Ia tumbuh subur dalam budaya penjilatan. Dalam sistem di mana sanjungan lebih dihargai daripada kebenaran. Penjilat itu pelumas korupsi. Mereka menutupi bau busuk dengan wewangian kata-kata manis.
Maka, saat ada yang berani membongkar budaya ini menolak ikut arus dan berdiri tegak itu adalah tamparan keras. Penjilat pasti membenci keberanian. Soalnya, keberanianlah yang membuka kedok mereka.
Transparansi, menurut sejumlah pengamat, bukan cuma urusan administrasi. Ia adalah sikap hidup. Saat seorang pejabat berkata, “Periksa saya kapan saja,” pesannya kuat: Saya tidak kebal. Saya tidak lebih tinggi dari kebenaran.
Artikel Terkait
Pandji Pragiwaksono Buka Suara di Netflix: Polisi Bunuh, Tentara Berpolitik, Presiden Maafkan Koruptor
Banteng Berhoodie: PDIP Luncurkan Maskot Barata di Rakernas ke-53
Pasien Diduga Super Flu Meninggal di RSHS, Komorbid Jadi Sorotan
Lima Desa di Aceh Masih Gelap Gulita Pascabencana, Tiang Listrik Roboh Berantakan