Saat Pejabat Berani Buka Diri, Koruptor Cemas dan Tersipu

- Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:25 WIB
Saat Pejabat Berani Buka Diri, Koruptor Cemas dan Tersipu

Pesan semacam ini bisa menular. Ia ciptakan standar baru. Dan standar baru itulah mimpi buruk bagi yang biasa main di bawah meja.

Dampaknya Luas

Efeknya berlapis. Di satu sisi, publik yang skeptis mulai tersadar, “Oh, ternyata masih ada pejabat yang tidak alergi diperiksa.” Harapan pun tumbuh.

Namun begitu, di sisi lain, tekanan moral muncul di kalangan aparatur lain. Mereka yang dulu merasa nyaman di zona abu-abu jadi gelisah. Standarnya sudah naik. Ada pembandingnya sekarang.

Dan dalam birokrasi, kehadiran pembanding adalah pengganggu terbesar bagi kenyamanan yang palsu.

Hukum itu penting, ya. Tapi jangan remehkan kekuatan rasa malu. Di masyarakat yang mulai melek, rasa malu bisa lebih menyiksa daripada hukuman formal. Ketika kejujuran dipuji, kebusukan jadi tampak lebih kontras. Koruptor tak cuma terancam penjara; mereka bisa kehilangan muka, dipandang rendah, dan jadi bahan omongan. Bagi yang doyan kehormatan palsu, ini hukuman yang berat.

Intinya, koruptor tak takut pada suara keras. Mereka takut pada sorotan yang konsisten. Pada data, audit, dan publik yang kritis. Sikap lantang yang siap diuji adalah cahaya itu. Ia tak perlu berteriak, cukup menerangi. Ia tak mengancam, tapi memaksa kebenaran muncul ke permukaan.

Keteladanan, Bukan Retorika

Kita ini tidak kekurangan pidato antikorupsi. Yang langka itu keteladanan. Satu tindakan berani bisa mengalahkan seribu seminar. Satu sikap terbuka mampu membungkam ribuan pembelaan kosong.

Ketika pejabat berani berdiri tanpa tameng kekuasaan, ia mengajarkan tentang tanggung jawab. Bahwa jabatan itu amanah, bukan perisai. Bahwa kekuasaan itu beban moral, bukan hak istimewa.

Keberanian seperti ini harus menular. Ia harus jadi standar baru. Ia harus bikin siapapun yang berniat korup berpikir ulang bukan cuma takut tertangkap, tapi juga takut dipermalukan oleh keberanian orang lain. Takut terlihat kerdil.

Jika keberanian berhasil menjadi budaya, korupsi akan sesak napas. Kehabisan ruang. Dan saat itu terjadi, kita bukan cuma punya hukum yang kuat, tapi juga bangsa yang punya nilai dan martabat.


Halaman:

Komentar