Kalau bicara soal utang online, angkanya memang bikin geleng-geleng. Baru-baru ini, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) merilis data yang cukup mencengangkan: hingga November 2025, total utang masyarakat Indonesia lewat pinjaman online atau pinjol nyaris menyentuh Rp 95 triliun. Tepatnya, Rp 94,85 triliun. Angka ini melonjak 25,45% dibanding periode sama tahun sebelumnya.
Agusman, Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan di OJK, yang menyampaikan data itu. Dalam Konferensi Pers RDKB, Jumat (9/1) lalu, ia menjelaskan detailnya.
“Pada industri pinjaman daring atau pindar, outstanding pembiayaan pada November 2025 tumbuh 25,45 persen year-on-year dengan nilai nominal sebesar Rp 94,85 triliun,”
Namun begitu, di balik pertumbuhan yang pesat itu, ada catatan yang perlu diwaspadai. Tingkat kredit macet alias wanprestasi untuk pinjol juga ikut naik. Hingga November lalu, rasio tunggakan 90 hari (TWP90) berada di 4,33 persen, meningkat 2,7 persen dari bulan sebelumnya. Agusman juga menambahkan, secara keseluruhan, utang ke perusahaan pembiayaan justru tumbuh lebih pelan, hanya 1,09 persen, didorong terutama oleh pembiayaan untuk modal kerja.
Nah, sementara di sini ramai soal utang online, dari seberang lautan datang kabar kebijakan yang tak kalah besar. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, membuat gebrakan di sektor perumahan. Lewat unggahan di akun Truth Social-nya, juga pada Jumat (9/1), ia mengumumkan perintah pembelian obligasi hipotek atau KPR senilai fantastis: 200 miliar dolar AS.
“Saya menginstruksikan para perwakilan saya untuk membeli obligasi hipotek senilai USD 200 miliar. Ini akan menurunkan suku bunga KPR, menurunkan cicilan bulanan, dan membuat biaya kepemilikan rumah menjadi lebih terjangkau,”
Trump bilang, langkah ini bisa diambil karena keputusan lamanya untuk tidak melepas Fannie Mae dan Freddie Mac. Dua perusahaan milik pemerintah itu, menurutnya, sekarang punya cadangan kas yang besar. Nah, dana itulah yang akan dipakai untuk membeli obligasi KPR dalam skala masif, dengan harapan suku bunga bisa ditekan dan rumah jadi lebih terjangkau bagi warga AS.
Dua berita ini utang pinjol yang membengkak di Indonesia dan rencana Trump meringankan beban KPR di AS menjadi sorotan utama kanal bisnis akhir pekan lalu. Keduanya, meski konteksnya berbeda, sama-sama bicara soal uang yang dipinjam dan tekanan ekonomi yang dirasakan orang banyak.
Artikel Terkait
BNBR Tetapkan Harga Rights Issue Rp53 per Saham, Berpotensi Dilusi 34,15 Persen
Serangan AS ke Iran Picu Kekhawatiran Baru, Harga Minyak Melonjak dan Bursa Asia Tertekan
Harga Emas Anjlok ke Titik Terendah Dua Bulan, Tertekan Konflik Iran-AS dan Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed
Reformasi Ekspor Komoditas Dinilai Perkuat Likuiditas Valas, Namun Perbankan Waspadai Risiko Eksekusi