Harga Minyak Anjlok 1% Imbas Pernyataan Siap Damai Iran

- Rabu, 25 Februari 2026 | 07:20 WIB
Harga Minyak Anjlok 1% Imbas Pernyataan Siap Damai Iran

Harga minyak dunia anjlok lagi, turun sekitar satu persen pada penutupan pasar Selasa kemarin. Sentimen pasar langsung berubah setelah Iran dengan lantang menyatakan kesiapannya untuk melakukan apa saja demi mencapai kesepakatan dengan Amerika Serikat. Padahal, perundingan nuklir penting antara kedua negara itu baru akan digelar akhir pekan ini.

Angkanya cukup jelas: kontrak berjangka Brent merosot ke level USD70,77 per barel. Sementara WTI, patokan minyak AS, ikut terseret ke USD65,63. Keduanya sama-sama kehilangan satu persen.

Lalu, apa yang sebenarnya terjadi? Menurut Menteri Luar Negeri Oman, Badr Albusaidi, putaran ketiga perundingan nuklir Iran-AS akan berlangsung Kamis di Jenewa. Ini jadi momen krusial. Washington selama ini mendesak Teheran menghentikan program nuklirnya, sementara Iran membantah keras tuduhan sedang membuat senjata atom.

Nah, di tengah situasi genting itu, pernyataan seorang Wakil Menteri Luar Negeri Iran pada Selasa lalu benar-benar menyita perhatian. Dikutip dari Reuters, dia bilang Teheran siap mengambil "langkah apa pun yang diperlukan" untuk mencapai kesepakatan dengan AS. Kalimat itu sendiri sudah cukup untuk menggoyang pasar.

Di sisi lain, analis dari bank Swiss UBS punya pandangan. Mereka memperkirakan harga minyak akan mengalami penurunan moderat dalam beberapa pekan ke depan. Tapi, prediksi itu punya satu catatan besar: selama ketegangan di Timur Tengah tidak meledak dan mengganggu pasokan minyak global.

"Harga minyak mentah AS saat ini mengandung premi risiko geopolitik sekitar USD3-USD4 per barel," ujar Direktur Departemen Sumber Daya Mineral North Dakota, negara bagian penghasil minyak terbesar ketiga di AS. Pernyataannya itu disampaikan Senin lalu.

Para eksekutif energi juga berpendapat, industri ini butuh harga bertahan di level USD70 per barel agar produksi bisa terus tumbuh. Jadi, pelemahan harga kemarin jelas jadi berita buruk bagi mereka.

Ketegangan di lapangan pun semakin terasa. Seorang pejabat senior AS mengonfirmasi bahwa Departemen Luar Negeri mereka menarik personel non-esensial dan keluarga dari Kedutaan Besar di Beirut. Langkah ini diambil di tengah kekhawatiran yang makin menjadi akan risiko konflik militer dengan Iran. Bahkan, ada sumber yang menyebut Iran hampir mencapai kesepakatan dengan China untuk membeli rudal jelajah anti-kapal.

Sementara itu, dari dalam negeri AS sendiri, ada kebijakan yang bikin pusing. Pemerintahan mulai memungut tarif impor global sementara sebesar 10 persen pada Selasa. Tapi, ceritanya nggak sesederhana itu. Seorang pejabat Gedung Putih bilang, pemerintahan Trump malah sedang mengupayakan kenaikan tarif jadi 15 persen. Kebijakan yang membingungkan, apalagi setelah kekalahan mereka di Mahkamah Agung pekan lalu.

Dari sisi pasokan, ada perkembangan menarik dari Venezuela. Perusahaan perdagangan dan pembeli minyaknya baru saja menyewa kapal tanker berukuran sangat besar untuk pertama kalinya sejak kesepakatan pasokan dengan Washington dimulai. Langkah ini, menurut sejumlah sumber dan data, bakal mempercepat pengiriman mulai Maret dan meningkatkan pasokan ke India.

Di Eropa, tekanan terhadap Rusia terus berlanjut. Komisi Eropa dikabarkan akan mengajukan proposal hukum untuk melarang impor minyak Rusia secara permanen pada pertengahan April. Waktunya menarik, hanya tiga hari setelah pemilu parlemen Hungaria.

Belum lagi dengan insiden di lapangan. Monopoli pipa minyak Rusia, Transneft, terpaksa memangkas aliran minyak mentah ke sistemnya sekitar 250.000 barel per hari. Pemangkasan ini terjadi tak lama setelah drone Ukraina menyerang stasiun pemompaan yang melayani pusat dan pelabuhan minyak utama mereka.

Pasar sekarang menunggu. Mereka menantikan laporan persediaan mingguan dari American Petroleum Institute dan Badan Informasi Energi AS. Analis memproyeksikan ada penambahan sekitar 1,5 juta barel minyak mentah ke dalam persediaan untuk pekan yang berakhir 20 Februari. Angka itu nanti yang akan menentukan arah perdagangan selanjutnya.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar