Nilai ekspor Indonesia pada April 2026 mencapai 25,30 miliar dolar AS, melonjak 21,98 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Lonjakan signifikan ini diumumkan Badan Pusat Statistik (BPS) sebagai indikasi kinerja perdagangan yang menguat. Namun, di sisi lain, tekanan inflasi masih membayangi, terutama dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mencatat inflasi tahunan sebesar 4,94 persen pada Mei 2026.
Berdasarkan data resmi yang dirilis BPS, Selasa (2/6/2026), indeks harga kelompok tersebut naik dari 111,98 pada Mei 2025 menjadi 117,51 pada Mei 2026. Subkelompok makanan menjadi penyumbang inflasi tertinggi dengan angka 5,40 persen, sementara minuman beralkohol mencatat inflasi terendah sebesar 1,04 persen. Kelompok ini memberikan andil inflasi tahunan sebesar 1,43 persen terhadap Indeks Harga Konsumen (IHK) nasional.
Sejumlah komoditas pangan menjadi pendorong utama inflasi tahunan. Ikan segar memberikan andil terbesar sebesar 0,22 persen, disusul beras 0,18 persen, daging ayam ras 0,15 persen, minyak goreng 0,12 persen, dan cabai rawit 0,11 persen. Sigaret kretek mesin (SKM) menyumbang 0,08 persen, diikuti cabai merah 0,07 persen, bawang merah 0,06 persen, serta sigaret kretek tangan (SKT) dan daging sapi masing-masing 0,04 persen.
Komoditas lain seperti jeruk, sigaret putih mesin (SPM), dan pepaya turut menyumbang inflasi tahunan sebesar 0,03 persen. Sementara itu, beberapa komoditas justru menahan laju inflasi. Bawang putih menjadi penyumbang deflasi terbesar dengan andil 0,06 persen, sedangkan kelapa, daging babi, dan kentang masing-masing memberikan andil deflasi sebesar 0,01 persen.
Secara bulanan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menyumbang inflasi sebesar 0,12 persen pada Mei 2026. Cabai merah menjadi komoditas dengan kontribusi inflasi bulanan terbesar sebesar 0,08 persen. Minyak goreng dan bawang merah masing-masing menyumbang 0,04 persen, sementara tomat sebesar 0,03 persen. Beras turut memberikan andil inflasi bulanan sebesar 0,02 persen, diikuti SKM, sawi hijau, cabai rawit, ketimun, SPM, jeruk, dan air kemasan yang masing-masing menyumbang 0,01 persen.
Di sisi lain, sejumlah komoditas mengalami penurunan harga yang menahan kenaikan inflasi bulanan. Daging ayam ras menjadi penyumbang deflasi terbesar sebesar 0,06 persen, diikuti telur ayam ras 0,05 persen dan ikan segar 0,04 persen. Bawang putih, kangkung, dan bayam masing-masing menyumbang deflasi sebesar 0,01 persen.
Data ini menunjukkan bahwa pergerakan harga pangan masih menjadi faktor dominan yang memengaruhi inflasi nasional. Komoditas bahan makanan pokok seperti beras, ikan segar, minyak goreng, dan aneka cabai terus menjadi perhatian utama dalam pengendalian harga di tingkat konsumen.
Artikel Terkait
NTP Hortikultura Melonjak 7,08 Persen, BPS: Harga Beras Justru Terus Naik di Semua Lini Distribusi
Kebakaran Hutan dan Lahan Landa Aceh dan Riau, Lebih dari 15 Ribu Hektare Hangus
444 Jemaah Haji Kloter Pertama Kota Bekasi Tiba di Tanah Air
Trump Marahi Netanyahu dalam Panggilan Telepon, Sebut Serangan di Lebanon Gila dan Hambat Negosiasi dengan Iran