Nikkei Jepang dan KOSPI Korea Cetak Rekor Tertinggi, Didorong Euforia Teknologi AI

- Rabu, 25 Februari 2026 | 09:20 WIB
Nikkei Jepang dan KOSPI Korea Cetak Rekor Tertinggi, Didorong Euforia Teknologi AI

Rabu kemarin, pasar saham Asia tampak kembali bernyawa. Sentimen positif berembus dari Wall Street, di mana saham-saham teknologi bangkit. Reli itu cukup untuk meredakan kekhawatiran yang sempat menggantung: apakah gelombang AI justru akan mengganggu bisnis yang sudah ada? Rupanya, untuk sementara, jawabannya tidak.

Di Tokyo, Indeks Nikkei 225 melesat 1,3 persen. Tak tanggung-tanggung, ia menembus level 58.000 dan mencetak rekor tertinggi baru sepanjang sejarah. Pencapaian ini dapat terjadi berkat dua faktor. Pertama, tentu saja, euforia teknologi global. Namun begitu, ada pendorong spesifik: yen yang melemah dengan cukup tajam.

Pelemahan yen ini bukan tanpa sebab. Beredar laporan bahwa Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, menyampaikan kekhawatirannya soal kenaikan suku bunga lebih lanjut. Ia menyampaikan hal itu dalam pertemuan dengan Gubernur Bank of Japan, Kazuo Ueda, pekan lalu. Isu ini jelas mempengaruhi pergerakan mata uang.

Lalu, perhatian beralih ke Korea Selatan. Indeks KOSPI sukses menembus level psikologis 6.000 untuk pertama kalinya. Saham-saham produsen chip, seperti Samsung Electronics dan SK Hynix, menjadi motor penggeraknya. Mereka melonjak ke level tertinggi baru, disokong optimisme bahwa permintaan untuk teknologi AI masih sangat kuat.

Pencapaian KOSPI ini cukup fenomenal. Bayangkan, indeks ini baru saja menembus 5.000 pada akhir Januari lalu. Sejak awal tahun, kenaikannya sudah mencapai 43 persen. Dan ini berlanjut dari reli gila-gilaan tahun lalu yang tercatat sebagai yang terbesar sejak 1999.

Di sisi lain, bursa Australia juga ikut merasakan dampaknya. Indeks S&P/ASX 200 naik 0,9 persen, menghentikan tren penurunan selama tiga hari berturut-turut. Meski begitu, suasana hati investor masih waspada. Mereka menanti data inflasi Januari yang akan segera dirilis. Para analis memprediksi inflasi tahunan akan turun tipis, namun tetap berada di atas target bank sentral. Jadi, belum saatnya untuk benar-benar lega.

Pasar China bergerak positif, meski tak se-spektakuler tetangganya. Shanghai Composite naik 0,32 persen, sementara Hang Seng Hong Kong menguat 0,28 persen. Namun, tidak semua hijau. STI Singapura justru terlihat lesu, terkoreksi tipis 0,29 persen.

Lantas, apa yang memicu perubahan sentimen ini? Menurut sejumlah analis yang dilansir Reuters, ada angin segar dari perusahaan AI Anthropic. Sinyal rencana kemitraan yang mereka berikan menimbulkan harapan baru. Teknologi chatbot seperti Claude diprediksi akan berintegrasi dengan model bisnis yang sudah jalan, bukan malah menggantikannya secara radikal. Persepsi ini yang rupanya dibeli pasar.

Selain itu, mata investor tertuju pada Nvidia. Laporan kinerja perusahaan raksasa chip ini dinanti-nantikan sebagai barometer paling jelas untuk mengukur seberapa besar sebenarnya permintaan dunia terhadap teknologi AI.

Kembali ke Wall Street, indeks saham AS ditutup menguat pada sesi Selasa. Pemulihan saham teknologi jadi penopang utama. Investor tampaknya mencerna dua hal: pengumuman alat AI baru dari Anthropic tadi, plus perubahan sikap Presiden Donald Trump terkait kebijakan tarif perdagangan. Keduanya memberi warna berbeda pada pasar.

Mayoritas sektor di S&P 500 ikut menguat. Sektor Konsumen Diskresioner, Industri, Teknologi, dan Utilitas masing-masing naik lebih dari satu persen. Tapi, tidak semua sektor beruntung. Energi dan Kesehatan justru terlihat terkoreksi, menandakan bahwa aliran dana sedang berpindah-pindah mencari tempat yang paling nyaman.

Jadi, Rabu itu adalah hari yang cukup baik untuk bursa Asia. Setelah beberapa pekan dihantui kegelisahan, pasar sejenak menarik napas lega. Tapi seperti biasa, ini baru satu babak. Masih banyak laporan dan data yang harus ditunggu sebelum kita bisa bilang semuanya benar-benar aman.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar