Bisnis.com, JAKARTA – Ketegangan di Timur Tengah belum juga reda. Menanggapi situasi yang terus memanas, China kini mengambil langkah diplomatik. Beijing mendesak Iran agar segera duduk berunding dengan Amerika Serikat.
Seruan itu disampaikan langsung oleh Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, dalam percakapan telepon dengan rekannya dari Iran, Abbas Araghchi, Rabu (25/3/2026). Menurut pernyataan resmi pemerintah China yang dikutip Bloomberg, Wang menekankan satu prinsip utama: dialog adalah jalan terbaik.
"Berbicara lebih baik daripada berperang," tegas Wang.
Dia menambahkan, "Semua pihak harus memanfaatkan setiap peluang untuk perdamaian dan segera memulai perundingan."
Posisi China ini sebenarnya bukan hal baru. Sebelumnya, Wang sudah mendesak gencatan senjata dan mendorong komunitas global untuk lebih giat mencari solusi damai. Namun, seruan terbarunya ini punya timing yang menarik. Ini muncul hanya sehari setelah Presiden AS Donald Trump mengklaim bahwa Washington sedang berbicara dengan Iran untuk mengakhiri konflik.
Masalahnya, klaim Trump itu justru menimbulkan lebih banyak tanda tanya. Siapa yang terlibat? Seberapa serius pembicaraannya? Peluang keberhasilannya seperti apa? Semuanya masih gelap. Bahkan, Iran sendiri dengan tegas membantah sedang bernegosiasi dengan AS.
Di tengah kebuntuan ini, Pakistan sekutu pertahanan AS muncul dengan tawaran menjadi mediator. Tapi, di lapangan, situasinya tetap mencekam. Iran masih bercokol mengontrol Selat Hormuz yang vital. Sebaliknya, Israel terus menggempur posisi-posisi Iran. Belum lagi laporan soal tambahan pasukan AS yang dikirim ke kawasan, yang semakin mempertebal suasana perang.
Konflik yang pecah sejak akhir Februari lalu ini dampaknya sudah terasa global. Serangan balasan Iran yang menyasar fasilitas energi di Teluk, dan penutupan Selat Hormuz, langsung menggoyang pasar. Harga energi melonjak, pasar keuangan bergejolak. Jalur penting untuk pengiriman minyak dan gas terutama ke Asia nyaris terputus. Cuma segelintir kapal, yang punya kaitan dengan Iran, China, atau Suriah, yang berani melintas.
Jadi, seruan China kali ini terdengar mendesak. Tapi, dengan kedua pihak yang masih saling serang dan saling tuduh, jalan menuju meja perundingan tampaknya masih sangat panjang dan berliku.
Artikel Terkait
Wamen Haji: Pemerintah Tak Akan Bebani Jemaah dengan Kenaikan Setoran Haji
Belanda Keluarkan Peringatan Merah Suhu Panas untuk Pertama Kalinya, Suhu Capai 40 Derajat Celsius
Wamenko Otto Hasibuan Tegaskan Proses Hukum Wajib Taati Due Process of Law
Swiss Kirim Tim Penyelamat dan 18 Ton Peralatan ke Venezuela Pasca Gempa Kembar Tewaskan 164 Orang