PSM Makassar Mulai Rencanakan Restrukturisasi Tim Usai Lolos dari Degradasi

- Minggu, 10 Mei 2026 | 08:00 WIB
PSM Makassar Mulai Rencanakan Restrukturisasi Tim Usai Lolos dari Degradasi

Setelah melewati masa kritis yang nyaris menjerumuskan mereka ke jurang degradasi dan perlahan terbebas dari belenggu persoalan administrasi internasional, PSM Makassar kini mengarahkan pandangan ke satu agenda besar: membangun kembali fondasi tim untuk menyambut musim depan. Kelangsungan Pasukan Ramang di Super League Indonesia memang terasa seperti napas lega yang akhirnya bisa dihembuskan oleh publik Makassar. Hasil imbang tanpa gol antara Persis Solo dan Persebaya Surabaya di Stadion Manahan menjadi penyelamat, beberapa jam setelah PSM dihajar telak 0-3 oleh Arema FC.

Namun, di balik rasa syukur tersebut, manajemen klub tampaknya menyadari satu hal mendasar: musim ini tidak bisa dianggap sukses hanya karena berhasil menghindari degradasi. Justru sebaliknya, kompetisi 2025/2026 menjadi alarm keras bahwa skuad PSM membutuhkan pembenahan besar-besaran jika ingin kembali kompetitif di papan atas. Inkonsistensi menjadi problem yang paling nyata. Dalam beberapa laga, tim asuhan Bernardo Tavares mampu tampil disiplin dan solid. Akan tetapi, di pertandingan lain, lini belakang mudah kehilangan organisasi, sementara lini depan kesulitan mengubah dominasi penguasaan bola menjadi gol.

Kekalahan di Stadion Kanjuruhan menjadi gambaran utuh dari seluruh persoalan itu. Meski menguasai bola hingga 59 persen, PSM gagal mencetak satu gol pun dan justru dihukum oleh efektivitas Arema FC melalui aksi Dalberto, Gabriel Silva, dan Joel Vinicius. Situasi ini membuat evaluasi besar hampir pasti terjadi begitu musim berakhir. Salah satu sinyal paling kuat mulai mengarah pada kemungkinan perubahan di kursi pelatih. Nama Bernardo Tavares memang masih memiliki pengaruh besar di internal klub setelah membawa PSM meraih era kompetitif dalam beberapa musim terakhir. Namun, tekanan musim ini memunculkan spekulasi bahwa manajemen mulai membuka opsi untuk mendatangkan pelatih asing baru demi menyegarkan proyek tim.

Isyarat itu semakin menguat setelah PSM perlahan terbebas dari hambatan administratif yang sebelumnya sempat mengganggu aktivitas klub, termasuk sanksi FIFA yang membatasi fleksibilitas manajemen dalam merancang skuad. Dengan kondisi yang mulai lebih stabil, ruang gerak klub untuk membangun ulang tim kini jauh lebih terbuka. Fokus utama diperkirakan akan menyasar tiga sektor penting. Pertama, pembenahan lini pertahanan. Kehadiran Yuran Fernandes dan Aloisio Neto sejatinya memberikan fondasi kuat di belakang, tetapi musim ini memperlihatkan bahwa PSM masih terlalu mudah kehilangan konsentrasi dalam transisi bertahan.

Kedua, sektor kreativitas lini tengah. PSM kerap mendominasi penguasaan bola, namun serangan mereka sering kali berhenti sebelum benar-benar menjadi ancaman serius di kotak penalti lawan. Ketiga, efektivitas lini depan. Masalah penyelesaian akhir menjadi persoalan berulang sepanjang musim. Banyak peluang tercipta, tetapi produktivitas gol tidak cukup stabil untuk membawa PSM bersaing dengan nyaman di papan tengah. Karena itu, perombakan skuad diperkirakan tidak akan berskala kecil. Beberapa pemain asing kemungkinan tetap dipertahankan sebagai tulang punggung, tetapi komposisi tim tampaknya akan disusun ulang agar lebih sesuai dengan gaya bermain yang lebih agresif dan modern.

Dalam konteks inilah isu pelatih asing kembali mengemuka. PSM dikenal memiliki sejarah cukup kuat dengan pelatih luar negeri yang membawa pendekatan disiplin dan organisasi permainan yang jelas. Manajemen diyakini ingin kembali membangun identitas tersebut setelah musim ini terlalu banyak berjalan dalam situasi reaktif. Dua laga tersisa musim ini kini lebih terasa sebagai masa transisi ketimbang sekadar penutup kompetisi. Manajemen mulai bergerak menyusun kerangka musim depan, termasuk memetakan pemain yang dipertahankan, posisi yang perlu diperkuat, dan arah filosofi permainan baru.

Bagi publik Makassar, rasa lega karena selamat dari degradasi memang penting. Tetapi ekspektasi terhadap PSM selalu lebih besar daripada sekadar bertahan hidup. Setelah lolos dari ancaman degradasi dan mulai lepas dari tekanan sanksi FIFA, Pasukan Ramang kini menghadapi tantangan berikutnya: membangun ulang kekuatan agar tidak lagi sekadar selamat, tetapi kembali menjadi penantang serius di Super League musim depan.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar