Eropa Berang, Hubungan Transatlantik Memasuki Zaman Es

- Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:00 WIB
Eropa Berang, Hubungan Transatlantik Memasuki Zaman Es

Suasana di antara Amerika Serikat dan sekutu lamanya di Eropa kembali dingin. Kali ini, dua pilar utama NATO Prancis dan Jerman tampaknya sudah muak. Mereka tak segan lagi melontarkan kritik pedas terhadap gaya politik luar negeri Presiden AS, Donald Trump. Bagi mereka, langkah-langkah Washington belakangan ini terasa kian jauh dari aturan main internasional yang selama ini dijaga.

Di Berlin, Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier mengeluarkan peringatan serius. Dunia, katanya, sedang di ujung tanduk. Tatanan global yang dibangun susah payah setelah Perang Dunia II terancam runtuh. Dalam sebuah forum di ibu kota Jerman itu, Steinmeier menyebut perilaku Amerika Serikat saat ini sebagai "pecahnya zaman" yang kedua, setelah invasi Rusia ke Ukraina.

Yang menyakitkan bagi Eropa, menurut Steinmeier, kemunduran nilai-nilai itu justru datang dari mitra terdekat mereka sendiri. Amerika Serikat. Ia mengingatkan, jika hukum internasional diabaikan, negara-negara kecil dan lemah akan benar-benar tak berdaya. Dunia pun akan berubah menjadi arena rebutan yang dikuasai segelintir kekuatan besar saja.

Nada yang tak kalah keras terdengar dari Paris. Di hadapan para diplomat Prancis di Istana Élysée, Emmanuel Macron menyoroti sebuah ironi. Menurutnya, Washington kini justru berusaha melepaskan diri dari aturan internasional yang dulu mereka sendiri yang gagas dan sebarluaskan.

Ia lalu menekankan satu hal: Eropa harus punya otonomi strategis. Artinya, ketergantungan pada Amerika Serikat atau pada China harus dikurangi. Macron juga menyentuh soal kedaulatan digital. Ia bersikukuh Eropa akan mempertahankan regulasi Digital Markets Act (DMA) dan Digital Services Act (DSA), meski aturan itu dikritik habis-habisan oleh AS. Baginya, ruang informasi publik tidak boleh dikendalikan sepenuhnya oleh algoritma dari segelintir perusahaan raksasa teknologi.


Halaman:

Komentar