Suasana di antara Amerika Serikat dan sekutu lamanya di Eropa kembali dingin. Kali ini, dua pilar utama NATO Prancis dan Jerman tampaknya sudah muak. Mereka tak segan lagi melontarkan kritik pedas terhadap gaya politik luar negeri Presiden AS, Donald Trump. Bagi mereka, langkah-langkah Washington belakangan ini terasa kian jauh dari aturan main internasional yang selama ini dijaga.
Di Berlin, Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier mengeluarkan peringatan serius. Dunia, katanya, sedang di ujung tanduk. Tatanan global yang dibangun susah payah setelah Perang Dunia II terancam runtuh. Dalam sebuah forum di ibu kota Jerman itu, Steinmeier menyebut perilaku Amerika Serikat saat ini sebagai "pecahnya zaman" yang kedua, setelah invasi Rusia ke Ukraina.
“Ini tentang mencegah dunia berubah menjadi sarang penyamun,” ujarnya dengan nada tegas. “Tempat di mana pihak yang paling tidak bermoral bisa seenaknya mengambil apa pun yang mereka mau.”
Yang menyakitkan bagi Eropa, menurut Steinmeier, kemunduran nilai-nilai itu justru datang dari mitra terdekat mereka sendiri. Amerika Serikat. Ia mengingatkan, jika hukum internasional diabaikan, negara-negara kecil dan lemah akan benar-benar tak berdaya. Dunia pun akan berubah menjadi arena rebutan yang dikuasai segelintir kekuatan besar saja.
Nada yang tak kalah keras terdengar dari Paris. Di hadapan para diplomat Prancis di Istana Élysée, Emmanuel Macron menyoroti sebuah ironi. Menurutnya, Washington kini justru berusaha melepaskan diri dari aturan internasional yang dulu mereka sendiri yang gagas dan sebarluaskan.
“Prancis menolak kolonialisme baru dan imperialisme baru. Tapi kami juga menolak sikap tunduk dan kekalahan,” tegas Macron.
Ia lalu menekankan satu hal: Eropa harus punya otonomi strategis. Artinya, ketergantungan pada Amerika Serikat atau pada China harus dikurangi. Macron juga menyentuh soal kedaulatan digital. Ia bersikukuh Eropa akan mempertahankan regulasi Digital Markets Act (DMA) dan Digital Services Act (DSA), meski aturan itu dikritik habis-habisan oleh AS. Baginya, ruang informasi publik tidak boleh dikendalikan sepenuhnya oleh algoritma dari segelintir perusahaan raksasa teknologi.
Lantas, apa pemicu semua kritik terbuka ini? Sepertinya, ada beberapa hal yang membuat Paris dan Berlin gerah. Operasi militer AS di Caracas untuk menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro, misalnya. Belum lagi pernyataan Trump yang berulang kali menyebut keinginannya untuk mengambil alih Greenland dari Denmark. Hal-hal semacam itu dianggap sebagai langkah-langkah kontroversial yang mengacaukan papan catur geopolitik.
Kekhawatiran Eropa pun makin menjadi. Kaja Kallas, Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, mengaku blok tersebut sedang mempertimbangkan respons serius jika rencana akuisisi Greenland benar-benar terjadi. Ia menyebut sinyal dari Washington itu "sangat mengkhawatirkan".
Di Brussel, situasinya juga tegang. Para duta besar NATO dikabarkan sudah menggelar diskusi khusus soal keamanan kawasan Arktik. Meski pertemuan itu digambarkan berlangsung tanpa "drama", para diplomat sepakat pada satu hal: aliansi harus segera memperkuat kehadiran pertahanannya di wilayah itu. Tujuannya jelas, mengantisipasi ketidakpastian geopolitik yang makin menjadi-jadi.
Semua ini menandai sebuah fase baru. Hubungan transatlantik yang dulu dianggap sangat solid, kini retak. Eropa mulai bersuara lantang, mempertanyakan arah kebijakan global Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump. Sebuah pertanyaan besar kini menggantung: akankah persekutuan lama ini bertahan?
Artikel Terkait
Ruben Onsu Hentikan Nafkah ke Sarwendah karena Tak Dapat Akses Temui Anak
Ledakan Bom Peninggalan Perang Dunia II di Biak Tewaskan Lima Orang, 55 Warga Mengungsi
Polisi Bekuk Komplotan Pembegal Truk di Maros, Target Empat Lokasi
Timnas Putri Indonesia Umumkan 25 Pemain untuk Garuda Champion Series 2026, Diperkuat Diaspora