Lantas, apa pemicu semua kritik terbuka ini? Sepertinya, ada beberapa hal yang membuat Paris dan Berlin gerah. Operasi militer AS di Caracas untuk menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro, misalnya. Belum lagi pernyataan Trump yang berulang kali menyebut keinginannya untuk mengambil alih Greenland dari Denmark. Hal-hal semacam itu dianggap sebagai langkah-langkah kontroversial yang mengacaukan papan catur geopolitik.
Kekhawatiran Eropa pun makin menjadi. Kaja Kallas, Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, mengaku blok tersebut sedang mempertimbangkan respons serius jika rencana akuisisi Greenland benar-benar terjadi. Ia menyebut sinyal dari Washington itu "sangat mengkhawatirkan".
Di Brussel, situasinya juga tegang. Para duta besar NATO dikabarkan sudah menggelar diskusi khusus soal keamanan kawasan Arktik. Meski pertemuan itu digambarkan berlangsung tanpa "drama", para diplomat sepakat pada satu hal: aliansi harus segera memperkuat kehadiran pertahanannya di wilayah itu. Tujuannya jelas, mengantisipasi ketidakpastian geopolitik yang makin menjadi-jadi.
Semua ini menandai sebuah fase baru. Hubungan transatlantik yang dulu dianggap sangat solid, kini retak. Eropa mulai bersuara lantang, mempertanyakan arah kebijakan global Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump. Sebuah pertanyaan besar kini menggantung: akankah persekutuan lama ini bertahan?
Artikel Terkait
KPK Amankan Rp6 Miliar dalam OTT Perdana 2026, Libatkan Pejabat Pajak dan Tambang
Iran Pukul Mundur Aksi Provokasi, Intel Turki Bantu Gagalkan Infiltrasi Milisi
Cangkruk: Ritme Pelan yang Menjaga Kediri Tetap Utuh
Iran Bergolak: Zionis Dituding Dalangi Gelombang Teror dan Pembakaran Tempat Ibadah