Di London, Inggris, pada Senin lalu, sebuah kesepakatan penting diteken. Badan Pengelola Investasi Danantara dan raksasa teknologi Arm Limited sepakat menjalin kerja sama strategis. Ini bukan sekadar nota kesepahaman biasa, melainkan langkah awal Indonesia untuk bermain serius di papan atas industri semikonduktor global.
Menurut Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, kolaborasi ini adalah langkah strategis. Targetnya jelas: menguasai teknologi semikonduktor. Arm sendiri bukan pemain sembarangan. Perusahaan ini mendominasi pasar desain chip, khususnya untuk data center dan kecerdasan buatan di sektor otomotif dunia.
"Arm merupakan salah satu perusahaan yang mendominasi pasar semikonduktor untuk sektor otomotif global, khususnya pada aspek desain chip untuk pusat data dan kecerdasan buatan," jelas Airlangga dalam rilis tertulisnya, Selasa (24/2/2026).
Nantinya, kerja sama ini akan difokuskan untuk mendongkrak kapasitas dan kemandirian nasional. Semikonduktor, sebagai elemen dasar inovasi digital, menjadi prioritas utama. Pemerintah pun tak main-main, menggelontorkan dana awal senilai USD150 juta untuk membangun ekosistemnya.
"Dengan kerja sama ini diharapkan Indonesia bisa melakukan pelatihan terhadap 15 ribu engineers kita di dalam ekosistem Arm, agar mereka bisa menguasai teknologi chip design," ujar Airlangga.
Ia menambahkan, rencana kerja samanya akan berlanjut hingga ke generasi chip berikutnya. Harapannya, Indonesia tak cuma jadi konsumen, tapi punya kemampuan nyata di bidang desain dan pengembangan semikonduktor.
Di sisi lain, kerja sama ini juga punya napas politik. Airlangga menyebut ini sebagai tindak lanjut langsung arahan Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat kemandirian teknologi. Agenda ini diposisikan sejajar dengan pembangunan ketahanan pangan dan energi. Intinya, lompatan strategis.
Yang menarik, ada rencana pengembangan enam desain chip nasional. Enam rancangan ini akan menjadi intellectual property (IP) yang dipegang Indonesia.
"Enam ini merupakan IP, intellectual property, yang kita bisa pilih apakah satu untuk teknologi otomotif, kedua internet of things, ketiga terkait dengan data center, kemudian bisa juga tentang home appliances," papar Airlangga.
Dua desain lainnya, katanya, bisa diarahkan ke teknologi futuristik seperti kendaraan otonom atau komputasi kuantum. Pilihannya masih akan dibahas lebih lanjut dengan Danantara.
Tak cuma desain chip, ekosistem pengembangan perangkat lunak juga akan dibangun. Beberapa kampus ternama seperti ITB, UGM, dan UI sudah dipersiapkan hampir dua tahun terakhir untuk mendukung agenda ini. Nantinya, talenta lokal akan dilatih langsung oleh pelatih dari ekosistem Arm.
Ke depan, jalan masih panjang. Pengembangan generasi chip baru tentu membuka peluang investasi yang lebih besar, termasuk di lini manufaktur atau "printing" yang saat ini dikuasai segelintir perusahaan global. Pemerintah berharap, perusahaan-perusahaan global itu tertarik menanamkan modalnya di Indonesia, melengkapi ekosistem semikonduktor nasional yang sedang dibangun dari nol ini.
Jika semua berjalan sesuai rencana, transformasi dari konsumen menjadi produsen bernilai tambah tinggi bukan lagi sekadar wacana. Tapi itu cerita untuk tahun-tahun mendatang. Untuk sekarang, langkah pertama sudah diambil.
Artikel Terkait
Dirjen Bina Keuangan Daerah Terima Penghargaan Digital Innovation Award 2026 atas Transformasi Digital Tata Kelola Pemerintahan
Presiden Prabowo dan Wapres Gibran Kurban Sapi Raksasa di Masjid Istiqlal, Bobot Capai 1,3 Ton
Menkeu Terbitkan Aturan Baru, Penyaluran DBH dan DAU ke Daerah Dipercepat
Gubernur The Fed Lisa Cook Siap Naikkan Suku Bunga Jika Inflasi Tak Kunjung Turun