Kampus-kampus di Iran kembali ramai oleh suara protes. Mahasiswa menggelar demonstrasi di berbagai universitas, melanjutkan gelombang keresahan yang sempat mereda. Pemerintah, melalui juru bicaranya Fatemeh Mohajerani, mengakui hak mereka untuk berunjuk rasa. Tapi ada pesan tegas yang disampaikan: ada batasan yang tak boleh dilewati.
"Hal-hal sakral dan bendera merupakan dua contoh garis merah yang tidak boleh dilanggar," tegas Mohajerani, seperti dilansir AFP, Selasa (24/2/2026).
“Yang harus kita lindungi dan tidak boleh kita langgar atau menyimpang darinya, bahkan di tengah kemarahan.”
Namun begitu, nada pernyataan itu juga mencoba memahami. Mohajerani mengakui mahasiswa punya luka di hati. Mereka telah melihat pemandangan yang tentu saja mengusik dan memicu amarah. “Kemarahan ini dapat dimengerti,” ujarnya.
Artikel Terkait
Polda Metro Jaya Bantah Pelaku Penganiayaan di SPBU Cipinang Anggota Polisi
Kemensos-Kemenkop Dorong 18 Juta Penerima Bansos Masuk Koperasi Desa
Ukraina Serang Stasiun Minyak Rusia di Tatarstan, Picu Ketegangan dengan Hongaria dan Slovakia
Mayat Pria Ditemukan Mengambang di Kali Ciliwung, Identitas Masih Misteri