Parkir Murah di Luar Stasiun Bekasi Tetap Jadi Andalan, Meski Tarif Mulai Merangkak Naik

- Rabu, 07 Januari 2026 | 22:48 WIB
Parkir Murah di Luar Stasiun Bekasi Tetap Jadi Andalan, Meski Tarif Mulai Merangkak Naik

Pagi hingga sore, suasana di sekitar Stasiun Bekasi selalu ramai. Tapi denyut nadi kawasan ini bukan cuma berasal dari para penumpang kereta yang berlalu-lalang. Coba perhatikan sisi luar pagar stasiun, terutama di sepanjang Jalan H. Djuanda dan Jalan Perjuangan. Deretan ratusan sepeda motor berjajar rapi di lahan-lahan yang dulu mungkin hanya rumah tinggal atau tanah kosong. Kini, tempat-tempat itu telah berubah jadi usaha penitipan kendaraan yang jumlahnya terus bertambah.

Fenomena ini muncul begitu saja, mengikuti irama warga yang kian bergantung pada kereta api untuk mobilitas sehari-hari. Soalnya, tarif parkir resmi di dalam stasiun yang dihitung per jam dirasa terlalu menguras kantong. Bayangkan, bagi pekerja yang berangkat pagi dan pulang petang, biayanya bisa membengkak.

“Kalau parkir di luar stasiun, dulu Rp 5.000, sekarang di tempat kami cukup bayar Rp 6.000 seharian. Walaupun sekarang ada yang mulai naik lagi,”

Begitu kata Awan, seorang petugas parkir motor di sekitar stasiun, Rabu lalu. Ia mengaku, kenaikan tarif di luar stasiun sepertinya tak bisa dihindari. Salah satu pemicunya adalah kenaikan Upah Minimum Regional atau UMR.

Di area parkir resmi stasiun sendiri, tarif satu jam pertama Rp 2.000. Setiap jam berikutnya bertambah seribu rupiah. Hitung saja sendiri, dari pagi sampai sore bisa habis berapa. Makanya, banyak yang memilih alternatif di luar, dengan tarif harian yang jauh lebih ringan.

“Sekarang memang lagi pada naik-naik. Katanya UMR naik, jadi ada rencana bulan depan jadi Rp 7.000. Kalau yang di depan-depan stasiun, saya dengar sudah ada yang Rp8.000,” jelas Awan lagi.

Meski harganya mulai merangkak naik, tetap saja lebih murah ketimbang parkir di dalam. Selain soal angka, ada faktor lain yang bikin pelanggan betah. Yaitu hubungan kedekatan antara pengelola dan pelanggannya.

“Di sini banyak yang sudah langganan. Sudah kenal satu sama lain. Setiap hari ketemu, jadi ya saling percaya,” ujarnya sambil tersenyum.

Hal itu dibenarkan oleh Dimas, seorang pengguna rutin asal Tambun. Setiap hari ia menitipkan motornya di salah satu lahan dekat stasiun sebelum naik kereta.

“Kalau dibandingkan, jelas lebih murah di luar. Selisihnya jauh kalau parkir di dalam stasiun,” katanya.

Menurut Dimas, meski bayarnya per hari dan tidak ada sistem langganan bulanan, rasa aman tetap ada karena sudah saling kenal wajah. “Bayarnya per hari, bukan bulanan. Tapi ya sudah kenal, jadi merasa lebih aman saja,” tuturnya.

Jadi, perubahan fungsi lahan dan rumah jadi tempat parkir motor kini sudah jadi pemandangan biasa. Stasiun Bekasi tak lagi sekadar simpul transportasi, tapi juga memunculkan denyut ekonomi kecil di sekelilingnya. Selama arus penumpang tak pernah berhenti, bisnis parkir dan deretan motor ini tampaknya akan terus melekat pada identitas kawasan ini.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar