Meski harganya mulai merangkak naik, tetap saja lebih murah ketimbang parkir di dalam. Selain soal angka, ada faktor lain yang bikin pelanggan betah. Yaitu hubungan kedekatan antara pengelola dan pelanggannya.
“Di sini banyak yang sudah langganan. Sudah kenal satu sama lain. Setiap hari ketemu, jadi ya saling percaya,” ujarnya sambil tersenyum.
Hal itu dibenarkan oleh Dimas, seorang pengguna rutin asal Tambun. Setiap hari ia menitipkan motornya di salah satu lahan dekat stasiun sebelum naik kereta.
“Kalau dibandingkan, jelas lebih murah di luar. Selisihnya jauh kalau parkir di dalam stasiun,” katanya.
Menurut Dimas, meski bayarnya per hari dan tidak ada sistem langganan bulanan, rasa aman tetap ada karena sudah saling kenal wajah. “Bayarnya per hari, bukan bulanan. Tapi ya sudah kenal, jadi merasa lebih aman saja,” tuturnya.
Jadi, perubahan fungsi lahan dan rumah jadi tempat parkir motor kini sudah jadi pemandangan biasa. Stasiun Bekasi tak lagi sekadar simpul transportasi, tapi juga memunculkan denyut ekonomi kecil di sekelilingnya. Selama arus penumpang tak pernah berhenti, bisnis parkir dan deretan motor ini tampaknya akan terus melekat pada identitas kawasan ini.
Artikel Terkait
Kemensos Siapkan Pendamping Bersertifikat untuk Program Makanan Lansia dan Disabilitas
Rudal Rusia Hantam Lviv, Ancaman Hipersonik Mengintai Perbatasan NATO
Penangkapan Maduro: Saat Hukum AS Menjadi Senjata Perang Baru
Duel Sengit di Coliseum: Getafe vs Real Sociedad Berebut Angin Segar