Pagi hingga sore, suasana di sekitar Stasiun Bekasi selalu ramai. Tapi denyut nadi kawasan ini bukan cuma berasal dari para penumpang kereta yang berlalu-lalang. Coba perhatikan sisi luar pagar stasiun, terutama di sepanjang Jalan H. Djuanda dan Jalan Perjuangan. Deretan ratusan sepeda motor berjajar rapi di lahan-lahan yang dulu mungkin hanya rumah tinggal atau tanah kosong. Kini, tempat-tempat itu telah berubah jadi usaha penitipan kendaraan yang jumlahnya terus bertambah.
Fenomena ini muncul begitu saja, mengikuti irama warga yang kian bergantung pada kereta api untuk mobilitas sehari-hari. Soalnya, tarif parkir resmi di dalam stasiun yang dihitung per jam dirasa terlalu menguras kantong. Bayangkan, bagi pekerja yang berangkat pagi dan pulang petang, biayanya bisa membengkak.
“Kalau parkir di luar stasiun, dulu Rp 5.000, sekarang di tempat kami cukup bayar Rp 6.000 seharian. Walaupun sekarang ada yang mulai naik lagi,”
Begitu kata Awan, seorang petugas parkir motor di sekitar stasiun, Rabu lalu. Ia mengaku, kenaikan tarif di luar stasiun sepertinya tak bisa dihindari. Salah satu pemicunya adalah kenaikan Upah Minimum Regional atau UMR.
Di area parkir resmi stasiun sendiri, tarif satu jam pertama Rp 2.000. Setiap jam berikutnya bertambah seribu rupiah. Hitung saja sendiri, dari pagi sampai sore bisa habis berapa. Makanya, banyak yang memilih alternatif di luar, dengan tarif harian yang jauh lebih ringan.
“Sekarang memang lagi pada naik-naik. Katanya UMR naik, jadi ada rencana bulan depan jadi Rp 7.000. Kalau yang di depan-depan stasiun, saya dengar sudah ada yang Rp8.000,” jelas Awan lagi.
Artikel Terkait
Jenazah Perempuan Ditemukan Mengapung di Sungai Paria Barru, Diduga Korban Tenggelam Saat Cari Kerang
Kisah Prajurit Ngatijan dan Ilmu Kebal yang Selamatkan Rekan dari Tembakan Belanda di Papua
Polri dan Kemenhaj Bentuk Satgas Khusus untuk Berantas Penipuan Haji dan Umrah
Ledakan Tabung Gas di Pabrik Gizi Ngawi Lukai Satu Pekerja