Pasar minyak sawit kembali bergerak usai jeda libur panjang. Harga CPO bergerak dalam kisaran yang sempit hari ini, Selasa, mencerminkan kehati-hatian para pelaku pasar. Di sisi lain, pergerakan harga minyak nabati lain justru beragam, sementara ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih jadi perhatian utama.
Kontrak acuan CPO untuk pengiriman Juni di bursa Malaysia tercatat melemah tipis 0,63 persen, berada di level 4.582 ringgit per ton. Pergerakannya terbatas, hanya antara 4.565 hingga 4.597 ringgit hingga jeda siang tadi.
Seorang trader di Kuala Lumpur memberikan penjelasannya.
“Pasar sawit terjebak dalam kisaran sempit karena ada tarik-menarik. Harga palm olein di Dalian turun, sementara minyak kedelai Chicago malah menguat. Situasinya memang tidak satu arah,” ujarnya.
Ia juga menyinggung faktor geopolitik yang bikin trader berpikir dua kali. Meski ada pernyataan dari mantan Presiden AS Donald Trump soal pembicaraan produktif dengan Iran, pihak Tehran sendiri membantahnya. Hal-hal seperti inilah yang membuat suasana pasar tetap waspada.
Kalau dilihat lebih detail, kontrak minyak kedelai di Dalian turun 0,28 persen. Minyak sawit di bursa yang sama juga melemah, bahkan lebih dalam, yaitu 0,81 persen. Tapi, ceritanya berbeda di Chicago Board of Trade, di mana harga minyak kedelai justru naik 0,78 persen. Pergerakan yang berlainan arah ini wajar saja mempengaruhi CPO, mengingat mereka semua bersaing ketat di pasar minyak nabati global.
Namun begitu, ada faktor pendukung lain. Harga minyak mentah dunia yang terus menguat imbas perang di Timur Tengah ternyata memberi angin segar. Kenaikan itu membuat minyak sawit terlihat lebih menarik sebagai bahan baku biodiesel. Jadi, ada semacam penopang.
Faktor kurs juga berperan. Ringgit Malaysia melemah 0,2 persen terhadap dolar AS. Bagi pembeli yang menggunakan mata uang asing, komoditas ini jadi sedikit lebih terjangkau. Itu mungkin bisa mendongkrak minat.
Jadi, pasar hari ini seperti diimbangi oleh dua kekuatan: kekhawatiran geopolitik yang menahan kenaikan, dan dukungan dari harga minyak mentah serta kurs yang mencegah penurunan tajam. Hasilnya? Pergerakan harga yang stabil dan terbatas.
Artikel Terkait
Likuiditas Nasional Tembus Rp10.415 Triliun pada Mei 2026, BI Catat Pertumbuhan M2 Melonjak 10,8 Persen
Dolar AS Menguat, Yen Tertekan Mendekati Level Terendah Empat Dekade
Pemilik Baru SONA Wajib Lakukan Tender Offer, Harga Beli Saham Ditetapkan Rp2.284 per Lembar
Bursa Asia Bervariasi, Nikkei dan Kospi Terkoreksi di Tengah Tekanan Saham Teknologi