Bencana di Sumatera belum juga reda. Banjir dan tanah longsor yang menghantam Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat terus memakan korban. Wilayah-wilayah terpencil masih sulit dijangkau, sementara upaya evakuasi dan pengiriman bantuan berlangsung dalam situasi yang sangat sulit.
Angka korban terus bergerak naik. Menurut data terbaru BNPB per Sabtu (6/12), korban tewas telah mencapai 914 jiwa. Jumlah itu bertambah 47 dari hari sebelumnya. Sementara itu, 389 orang masih dinyatakan hilang dan terus dicari.
“Bertambah 47 jiwa dari posisi kemarin di 867 jiwa. Jumlah korban meninggal secara total 914 jiwa,” jelas Abdul Muhari, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Bencana BNPB.
Rinciannya cukup memilukan: Aceh kehilangan 359 jiwa, Sumatera Utara 329, dan Sumatera Barat 226.
Diterjang Bencana, Banyak Wilayah Masih Terjepit
Masalah terbesar saat ini adalah akses. Banyak daerah benar-benar terputus dari dunia luar, terutama di sejumlah kecamatan di Sumut dan Sumbar. Kondisi ini membuat distribusi bantuan jadi sangat rumit dan mahal.
Ambil contoh Kabupaten Tapanuli Utara. Di Kecamatan Adiankoting, satu desa hanya bisa dicapai dengan jalan kaki. Bantuan terpaksa dijatuhkan dari helikopter. Sementara di Kecamatan Parmonangan, empat desa Hutatua, Manalu Purba, Batuarimo, dan Purba Dolok terjebak dengan akses yang sangat terbatas.
Di Sumatera Barat, nasib serupa dialami sejumlah nagari di Pesisir Selatan, Padang Pariaman, dan Agam. Mereka terisolasi. Karena perbaikan jalan darat masih berlangsung, tim gabungan terpaksa mengandalkan udara dan tenaga kaki untuk mengantarkan sembako serta kebutuhan dasar.
“Sudah distribusi bantuan logistik melalui udara dan distribusi melalui jalan kaki oleh TNI,” ungkap BNPB dalam keterangannya.
Prabowo Panggil Ratas, Perintah Fokus Buka Akses
Merespon situasi genting ini, Presiden Prabowo Subianto menggelar rapat terbatas di kediamannya di Hambalang, Sabtu lalu. Intinya sederhana tapi berat: bagaimana caranya mempercepat pemulihan jalur transportasi dan listrik agar bantuan bisa mengalir.
“Bapak Presiden ingin mendapatkan laporan dari seluruh jajaran mengenai update penanganan tanggap darurat bencana yang menimpa saudara-saudara kita di Provinsi Aceh, Provinsi Sumatra Utara dan Provinsi Sumatera Barat,” kata Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi.
Dalam ratas itu, Prabowo memerintahkan seluruh jajaran untuk fokus membuka akses yang terputus. Distribusi BBM dan logistik harus dipercepat, begitu pula perbaikan listrik. Pemerintah juga tak menutup kemungkinan untuk turun langsung ke lokasi bila memungkinkan.
Helikopter Polisi Terbang Rendah, Manuver di Tengah Angin Kencang
Di lapangan, kesulitan nyata terlihat. Di Aceh Tamiang, sebuah helikopter Baharkam Polri harus melakukan manuver khusus: melayang di ketinggian sangat rendah untuk menurunkan bantuan. Mereka tak bisa menjatuhkannya dari ketinggian biasa karena khawatir rusak.
“Tidak ada tempat aman untuk melakukan dropping bantuan. Seluruh area tergenang, lahan kosong berubah menjadi arus deras, dan titik-titik evakuasi tak lagi dapat dijangkau,” papar Kadiv Humas Polri Irjen Pol Sandi Nugroho.
Penerbangan itu dipimpin pilot AKBP Dian Didik Arvianto, dengan kopilot IPTU Vidya H. Mangundjaya, serta dua awak pendukung. Mereka harus mengambil keputusan cepat di tengah angin kencang dan jarak pandang yang minim. Situasinya benar-benar menegangkan, tapi itulah satu-satunya cara untuk menjangkau warga yang terjebak.
Rumah Sakit Porak Poranda, TNI Dikerahkan Bersihkan Lumpur
Salah satu gambaran kerusakan parah terlihat di RSUD Aceh Tamiang. Fasilitas kesehatan ini porak-poranda diterjang banjir dan longsor. Lumpur tebal memenuhi ruangan, peralatan medis hanyut atau rusak.
TNI AD mengerahkan 80 personel untuk membersihkan kekacauan itu. Mereka menyelamatkan apa yang bisa diselamatkan dan mengevakuasi pasien.
“Pembersihan RSUD Tamiang pasca banjir telah dilaksanakan mulai Kamis, 4 Desember 2025 dengan kekuatan 35 orang,” ujar Subhi Fitra.
Lumpurnya sendiri, menurut laporannya, tebalnya mencapai 40 cm dan sudah mulai mengeras. Barang-barang yang tersisa pun sudah rusak berat.
Saat ini, aktivitas perawatan pasien dipindahkan ke lantai dua yang tidak kebanjiran. Meski begitu, kondisinya sangat darurat.
“Menurut keterangan dari Kepala RSUD Tamiang, di lantai 2 yang kebetulan tidak terkena banjir, masih ada pasien dirawat hingga pada saat ini, walaupun tidak ada lagi alat medis yang bisa digunakan,” tambah Subhi Fitra.
Itulah kondisi terbaru di Sumatera. Bencana belum berakhir, dan perjuangan untuk pulih masih sangat panjang.
Artikel Terkait
BMKG: Sebagian Besar Wilayah Sulsel Berpotensi Hujan Sedang pada Kamis
Mahfud MD Ungkap Sembilan Masalah Kultur Polri, dari Kekerasan hingga Impunitas
Polda Riau Bongkar Perusakan Hutan Mangrove di Kepulauan Meranti, Sita Ribuan Karung Arang Bakau Ilegal
Arus Balik Penduduk: Makassar Alami Migrasi Keluar Tertinggi, Gowa dan Maros Jadi Tujuan Utama