Dolar Amerika Serikat kembali melanjutkan penguatannya pada perdagangan Selasa (23/6/2026) seiring para pelaku pasar mulai memposisikan diri terhadap kemungkinan sikap yang lebih agresif dari Federal Reserve. Di sisi lain, harga minyak berhasil pulih setelah mengalami penurunan tajam, sementara yen Jepang tertekan hingga mendekati level terendah dalam empat dekade terakhir.
Indeks dolar, yang mengukur pergerakan greenback terhadap sejumlah mata uang utama seperti yen dan euro, tercatat naik tipis ke level 101,01. Angka ini tidak jauh dari posisi tertinggi dalam satu tahun yang sempat disentuh pada akhir pekan lalu, yakni 101,13.
“Dolar tetap kuat, didukung oleh kenaikan imbal hasil dan ekspektasi bahwa The Fed akan bersikap hawkish. Minimnya panduan dari bank sentral AS justru memicu volatilitas di pasar,” ujar Ahli Strategi Valuta Asing OCBC, Sim Moh Siong.
OCBC kini memperkirakan dolar akan menguat secara moderat seiring meningkatnya risiko kebijakan moneter AS yang lebih ketat. Pandangan ini merupakan revisi dari proyeksi sebelumnya yang memperkirakan dolar akan bergerak datar. Lebih lanjut, lembaga keuangan itu menyebutkan bahwa kenaikan tambahan sebesar dua hingga tiga persen pada indeks dolar sangat mungkin terjadi jika berhasil menembus level tertinggi 14 bulan di angka 101,97.
Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS masih bertahan di level tinggi. Obligasi tenor dua tahun yang sensitif terhadap perubahan suku bunga berada di dekat level tertinggi dalam 16 bulan. Kondisi ini mencerminkan kesiapan pasar menghadapi kemungkinan kenaikan suku bunga pada tahun ini.
Kontrak berjangka Fed funds memperkirakan peluang sebesar 75 persen untuk kenaikan suku bunga pada September. Sejalan dengan itu, BofA Global Research dan Deutsche Bank telah membatalkan proyeksi sebelumnya yang memperkirakan kebijakan moneter akan tetap stabil. Kedua lembaga tersebut kini memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga tahun ini dengan alasan ketahanan ekonomi AS yang masih solid.
Di kawasan Eropa, euro terakhir diperdagangkan di level USD1,1423, mendekati posisi terendah dalam tiga bulan. Tekanan terhadap mata uang tunggal ini terjadi setelah Presiden Bank Sentral Eropa, Christine Lagarde, meredam kekhawatiran pasar mengenai inflasi yang berkepanjangan.
Poundsterling Inggris diperdagangkan di level USD1,3246, relatif stabil setelah Perdana Menteri Keir Starmer mengundurkan diri. Langkah tersebut membuka jalan bagi transisi kekuasaan yang tertib di Inggris.
Adapun dolar Australia dan dolar Selandia Baru, yang dikenal sensitif terhadap sentimen risiko, masing-masing melemah sekitar 0,1 persen. Dolar Australia tercatat di USD0,6991, sementara dolar Selandia Baru berada di USD0,5704.
Artikel Terkait
OJK Terbitkan Aturan Baru untuk Awasi Financial Influencer Demi Informasi Keuangan yang Akurat
Samudera Indonesia Bagikan Dividen Rp196,5 Miliar untuk Tahun Buku 2025
Chandra Asri Raup Rp6 Triliun dari Obligasi Berkelanjutan, Terserap Lebih Tinggi dari Target
IHSG Balik ke Zona Merah, Terkoreksi 1,62% ke Level 6.002