Yang bikin miris, usianya masih sangat belia. Mereka kebanyakan masih pelajar, berusia antara 11 sampai 18 tahun.
"Didominasi usia 15 tahun, yaitu masa transisi dari SMP ke SMA," tambah Myandra.
Masa-masa pencarian jati diri itu, sayangnya, justru diisi dengan paparan konten berbahaya dari grup internasional tersebut. Berikut sebaran lengkap anak-anak yang teridentifikasi:
- DKI Jakarta: 15 anak
- Jawa Barat: 12 anak
- Jawa Timur: 11 anak
- Jawa Tengah: 9 anak
- Kalimantan Selatan: 3 anak
- Bali: 2 anak
- Banten: 2 anak
- Sumatera Selatan: 2 anak
- Kalimantan Barat: 2 anak
- Kalimantan Tengah: 2 anak
- Sulawesi Tenggara: 2 anak
- Lampung: 1 anak
- DIY: 1 anak
- NTT: 1 anak
- Aceh: 1 anak
- Sumatera Utara: 1 anak
- Kepri: 1 anak
- Riau: 1 anak
- Sulawesi Tengah: 1 anak
Kasus ini menyoroti betapa rentannya dunia digital bagi anak-anak. Di sisi lain, upaya pembinaan yang dilakukan dinas terkait tampaknya masih terus berjalan untuk menarik mereka kembali dari paham-paham ekstrem itu.
Artikel Terkait
Dua Rumah Hangus Terbakar di Barru, Diduga Akibat Korsleting Listrik
Polres Bone Gelar Serah Terima Jabatan untuk Sejumlah Pejabat Kunci
Mobil Terperosok Jurang 200 Meter di Enrekang, Satu Tewas
Prakiraan Cuaca Sulsel Jumat: Cerah Berpotensi Hujan Sedang di Sejumlah Kabupaten