Ada secercah harapan untuk Masjid Al Huda di Pedukuhan Gari, Wonosari, Gunungkidul. Kisahnya sempat pilu: bangunan yang sudah dibongkar, lalu donatur yang menjanjikan dana ternyata menghilang begitu saja. Tapi, rupanya ceritanya tidak berakhir di situ. Kini, sumbangan dari berbagai pihak mulai mengalir, menghidupkan kembali semangat warga.
Di lokasi, aktivitas sudah terlihat. Warga bersama para pekerja sibuk menyiapkan talud, struktur penahan tanah yang menjadi fondasi pertama. Pekerjaan ini adalah langkah awal sebelum cakar ayam dibangun.
Rewang Dwi Atmojo, seorang sesepuh berusia 72 tahun, mengakui rasa kecewa itu sempat menyelimuti. Namun, perasaan itu justru berubah jadi pendorong.
“Banyak yang kecewa. Tapi kekecewaan itu tidak menyurutkan semangat umat Islam di Gari. Justru menjadi semangat yang menggebu-gebu untuk membangun masjid ini,” ujarnya, Selasa lalu.
Menurut Dwi, warga tak tinggal diam. Mereka aktif menggalang dana, salah satunya dengan menyebarkan proposal ke mana-mana. Upaya itu ternyata tak sia-sia.
Dana Mengalir, Semangat Kian Kuat
Tholabi, warga lainnya, membenarkan bahwa pengumpulan dana menunjukkan progres yang menggembirakan. “Yang kita pegang hampir Rp 100 juta hari ini,” katanya. Angka itu tentu masih jauh dari total kebutuhan yang diprediksi mencapai Rp 1,8 miliar. Tapi, bagi warga, itu adalah modal awal yang sangat berarti untuk memulai. Mereka optimis, masjid dua lantai dengan basement serbaguna itu akan berdiri sesuai desain yang diimpikan.
Niat warga memang bulat. Meski sempat diruntuhkan, Masjid Al Huda akan dibangun kembali. Mujiyo, yang juga berusia 72 tahun, mewakili suara hati masyarakat.
“Insyaallah masyarakat tidak akan menuntut macam-macam. Insyaallah mudah-mudahan pembangunan ini berjalan lancar sesuai dengan harapan masyarakat,” harapnya.
Rewang Dwi Atmojo menegaskan hal serupa. Menurutnya, warga memilih untuk tidak memperkarakan masalah ini secara hukum. Fokus mereka satu: menyelesaikan pembangunan. Masjid sederhana yang berdiri sejak 1984 dan belum pernah direnovasi itu, akhirnya akan mendapatkan wujud baru.
Peringatan dari Kemenag
Merespons kejadian ini, Kepala Kantor Kemenag Gunungkidul, Mukotip, angkat bicara. Ia mengingatkan agar masyarakat lebih berhati-hati.
“Tentu kejadian ini menjadi perhatian kita. Jangan sampai tergiur oleh iming-iming yang semuanya ingin membangun masjid, namun tidak konsisten atau tidak bertanggung jawab,” tegas Mukotip via telepon.
Ia menilai kasus di Gari sangat merugikan. Sebagai Ketua Dewan Masjid Indonesia setempat, ia mengimbau agar takmir dan masyarakat berkoordinasi dengan institusi terkait seperti DMI atau Kemenag, terutama ketika menerima janji donasi besar. Koordinasi, kata dia, adalah kunci untuk menghindari penyesalan.
Di sisi lain, Mukotip menyatakan komitmen untuk membantu. Pihaknya akan memberikan bantuan sesuai kemampuan agar Masjid Al Huda bisa segera berdiri tegak, menjadi pusat ibadah dan kebanggaan warga Gari sekali lagi.
Artikel Terkait
Pakar Hukum: Warga Berhak Gugat Negara atas Kelalaian Infrastruktur Publik
Pemimpin Kartel CJNG El Mencho Tewas, Kekacauan di Meksiko Picu Peringatan Perjalanan dan Pembatalan Penerbangan
Makassar Alokasikan Rp10,6 Miliar untuk Bangun Jalan Akses TPA Antang
Catatan Harian Ungkap Jaringan Dakwah Ulama Sulsel KH Ahmad Surur